Tiga minggu pengerjaan, satu ide absurd, dan tiba-tiba viral. Itulah cerita di balik Carrier Pidge, aplikasi pesan berbasis iOS yang sengaja dirancang tidak efisien karena setiap pesan diantarkan seekor merpati virtual, bukan server instan seperti WhatsApp atau Telegram.
Carrier Pidge dibuat Noah Iarrobino dengan premis sederhana: bagaimana rasanya kalau pesan digital dikirim seperti zaman dulu, pakai burung merpati sungguhan? Kecepatan merpati virtual-nya pun dibuat serealistis mungkin, sekitar 177 kilometer per jam. Artinya, pesan ke teman yang tinggal satu kota mungkin tiba dalam hitungan detik. Pesan ke seseorang di benua lain? Bisa berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Belum selesai di situ. Ada peluang 0,2 persen merpati virtual tersebut tersesat dan "mati" di perjalanan. Kalau ini terjadi, pesan hilang selamanya. Tidak ada notifikasi gagal kirim, tidak ada opsi kirim ulang. Pesan itu pergi begitu saja, bak surat yang jatuh ke dasar samudra.
Anehnya, justru ini yang bikin orang ketagihan.
Pengguna bisa melacak perjalanan merpatinya secara real-time lewat peta, menunggu burung itu tiba di koordinat GPS penerima sebelum pesan terbaca. Daftar kontak dinamai "the flock", arsip pesan tersimpan di "the aviary", dan permintaan pertemanan muncul dalam bentuk burung yang hinggap mendarat di layar. Konsisten, absurd, dan agaknya semua itu memang disengaja.
Iarrobino sendiri tidak menyembunyikan kelemahan produknya. Di halaman App Store, aplikasi itu secara eksplisit disebut "tidak berguna" dan "benar-benar tidak praktis". Klaim yang, entah kebetulan atau tidak, justru menjadi strategi pemasaran paling efektif.
Carrier Pidge bukan satu-satunya pemain di ceruk aneh ini. Roost, aplikasi dengan konsep serupa, dilaporkan telah mengantongi sekitar 300.000 pengguna hanya dalam beberapa minggu sejak diluncurkan. Bukan angka kecil untuk kategori aplikasi yang dengan bangga mengklaim dirinya tidak berguna.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai reaksi terhadap kelelahan komunikasi digital. Selama bertahun-tahun, standar di dunia pesan instan adalah: kirim, langsung terbaca, langsung dibalas. Centang biru WhatsApp yang tak kunjung mendapat respons dalam beberapa menit sudah cukup menimbulkan pertanyaan, bahkan kecemasan. Komunikasi berubah jadi kewajiban. Pertanyaannya, berapa lama orang betah dengan tekanan semacam itu?
Konsep merpati virtual menawarkan jeda yang tidak biasa. Pengirim tahu pesannya tidak akan langsung dibaca, jadi ada waktu untuk memilih kata dengan lebih hati-hati. Penerima pun tidak dibebani tuntutan respons instan. Menunggu, yang selama ini dianggap cacat teknologi, kini dijual sebagai fitur utama. Lumayan nekat, kalau data pengguna Roost bisa dipercaya.
Apakah ini pertanda Gen Z benar-benar meninggalkan WhatsApp dan iMessage? Agaknya tidak sampai ke sana. Munculnya Carrier Pidge dan Roost lebih menunjukkan bahwa ada segmen pengguna yang mulai menghargai pengalaman berkomunikasi, bukan semata kecepatannya. Di era ketika semua bisa instan, menunggu pesan tiba ibarat menikmati kopi yang diseduh manual di tengah deretan mesin espresso otomatis. Repot, lambat, tapi ada kepuasan tersendiri yang sulit dijelaskan.