SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Menkeu Yakin Rupiah Menuju Rp17.000, tapi Risiko B...

Ekonomi

Menkeu Yakin Rupiah Menuju Rp17.000, tapi Risiko Belum Pergi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah akan segera menguat, mengutip proyeksi S&P Global Ratings. Di sisi lain, analis HSBC mengingatkan sejumlah risiko struktural yang masih membayangi mata uang Garuda.

Purbaya: Rupiah Tak Lama Lagi Menguat, Investor Asing Bakal Kembali

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis rupiah tidak lama lagi akan menguat. Ia bahkan punya referensi konkret untuk itu: S&P Global Ratings, dalam press release terbarunya, memproyeksikan kurs rupiah akan bergerak menuju kisaran Rp17.000 per dolar AS, sesuai target pemerintah.

"Dari S&P kemarin, itu disebutkan juga kira-kira rupiahnya akan menguat ke Rp17.000 ke arah yang sesuai dengan target kita lah. Saya yakinkan ini perbaikan baru terjadi," kata Purbaya di Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).

Bukan klaim kosong. Sepanjang pekan ini, rupiah mencatat penguatan empat hari beruntun dengan total apresiasi 0,89%, sempat bertengger sebagai mata uang terkuat di kawasan Asia. Pada pembukaan perdagangan Jumat (17/7/2026), rupiah dibuka di Rp17.982 per dolar AS, menguat tipis dari penutupan sebelumnya di Rp17.986.

Purbaya mengidentifikasi dua katalis utama. Pertama, harga minyak dunia yang sempat bergejolak agaknya akan lebih jinak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Kedua, pola klasik investor global: begitu ketidakpastian mereda, mereka kembali melirik negara berkembang dengan prospek pertumbuhan tinggi. Indonesia, kata Purbaya, masuk dalam kategori itu. "Jadi kalau uncertainty global meningkat mereka keluar, begitu sudah stabil mereka masuk lagi. Harusnya enggak lama lagi rupiah menguat kalau kita enggak panik," ujarnya.

Di sisi domestik, pemerintah menggenjot fundamental lewat jalur UMKM. Presiden Prabowo Subianto telah memastikan penurunan bunga pinjaman bagi Usaha Mikro (UMi) dari 22% menjadi 8%, pemangkasan yang cukup drastis, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal jangka panjang, bukan sekadar kebijakan populis jelang evaluasi fiskal. "Selama kita memastikan ekonomi Indonesia tumbuh dan UMKM berkembang kuat, investor akan datang," tegas Purbaya.

Pasar, sayangnya, tidak sepenuhnya sepakat. Investor global tercatat net sell obligasi Indonesia sebesar US$162,2 juta pada 15 Juli, meski yield tenor pendek mulai tergerus: tenor 1 tahun terpangkas 5,2 basis poin ke 7%, tenor 2 tahun turun 7,4 bps ke 7,12%. Bank Indonesia hari itu berhasil meraup Rp17 triliun dari lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan total penawaran masuk Rp37,93 triliun, dan minat terbesar datang dari tenor 12 bulan.

Analis HSBC Paul Mackel, seperti dikutip Bloomberg News, mengingatkan sederet risiko yang masih menggantung: defisit transaksi berjalan yang makin melebar, iklim usaha domestik yang belum sepenuhnya kondusif, arus keluar portofolio, hingga penurunan cadangan devisa. Pekan depan, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kembali menjadi agenda kritis. BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 6%, langkah yang mencerminkan satu keyakinan sederhana: penguatan rupiah pekan ini masih terlalu rapuh untuk dianggap tren balik.

Sepanjang 2026, rupiah sudah terdepresiasi 6,73%. Salah satu yang terburuk di Asia. Penguatan empat hari ini cukup melegakan, tapi belum cukup untuk menghapus catatan itu.