IHSG ditutup di 6.162,05 pada Jumat sore, menguat 67,11 poin atau 1,10 persen setelah sebelumnya sempat amblas ke 5.966,86 di sesi yang sama. Bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, angka itu bukan sekadar data penutupan harian, tapi sinyal bahwa pasar sudah terlalu murah untuk diabaikan.
Dalam sepekan ini, Purbaya muncul di dua forum berbeda dengan pesan yang pada dasarnya satu: beli. Di Kompleks Istana Kepresidenan, ia bilang pekan depan IHSG sudah siap "lari kencang". Di Jogja Financial Festival 2026, nada bicaranya lebih terstruktur, tapi kesimpulannya sama, indeks saham Indonesia sudah di area jenuh jual, atau bahkan sudah menyentuh bottom.
"Kalau saya lihat teknikal analisis jangka pendek, ini sebentar lagi sudah bottom, atau mungkin sudah bottom," ujar Purbaya. Kalimat yang, jujur saja, lebih terdengar dari mulut fund manager ketimbang menteri keuangan.
Yang bikin dahi berkerut adalah proyeksi jangka panjangnya. Purbaya tidak sekadar bicara rebound minggu depan. Dari titik terendah, ia menghitung potensi kenaikan IHSG bisa mencapai empat hingga lima kali lipat, dengan rentang waktu hingga 2028-2030. "Kalau kemarin lets say terendahnya 7.000, kalau 4 kali nanti akhir tahun 2028-2029-2030, jadi prospek meningkatnya sangat baik," jelasnya. Angka yang ambisius, terutama mengingat IHSG saat ini masih jauh dari level 7.000.
Argumen utama yang ia pegang: fundamental. Berkali-kali Purbaya kembali ke titik ini. Ekonomi Indonesia, klaimnya, sedang dalam jalur perbaikan serius di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Reformasi struktural dikerjakan lintas lembaga. "Kami, Pak Presiden melakukan reformasi ekonomi betul-betul serius, nggak main-main. Saya disuruh ke sana-ke sini untuk beresin semuanya. Yang lain juga bekerja sama," ungkapnya di Jogja Financial Festival.
Logikanya sederhana dan sebetulnya tidak salah secara teori: kalau ekonomi membaik, profitabilitas perusahaan ikut naik, harga saham harusnya menyusul. "Enggak mungkin kalau perusahaannya untung, sahamnya jatuh. Berarti undervalued, beli aja pasti untungnya," kata Purbaya. Agaknya kalimat itu akan disambut beragam oleh pelaku pasar, terutama mereka yang sudah nyangkut di level atas.
Soal siklus bisnis, ia juga berteori bahwa masa ekspansi ekonomi bisa diperpanjang dengan pengelolaan yang tepat. "Masa ekspansi itu sekitar 7-8 tahun kalau kita bodoh, kalau pintar bisa 10 tahun," ujarnya. Framing yang tidak konvensional dari seorang menteri, tapi itulah nada yang sedang ia bangun: percaya diri tanpa tedeng aling-aling.
Rebound Jumat ini ditopang saham-saham sektor energi dan basic materials. LQ45 ikut terkerek 0,66 persen ke 620,44. Pasar merespons. Setidaknya untuk hari ini.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah ini awal dari tren yang Purbaya janjikan, atau sekadar technical bounce sebelum tekanan berikutnya datang?