Sepanjang 2025, laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terpangkas hampir tiga perempat dibanding tahun sebelumnya. Toh, manajemen tetap memilih berbagi USD87 juta ke pemegang saham. Bukan angka kecil.
RUPST yang digelar 4 Juni 2026 menetapkan dividen final USD45 juta atau USD0,0018 per saham, setara Rp810 miliar dengan kurs Rp18.025. Angka itu melengkapi dividen interim USD42 juta, atau USD0,0017 per saham, yang sudah masuk rekening pemegang saham pada November 2025. Total dividen tunai tahun buku 2025 pun mencapai USD87 juta, setara USD0,0035 per saham, dengan dividend payout ratio 44,6% dari total laba.
Bagi yang ingin masuk sebelum ex-date, jadwalnya sudah terkunci. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh 15 Juni 2026, ex dividen sehari setelahnya pada 17 Juni 2026. Di pasar tunai, cum dividen ditetapkan 18 Juni 2026, ex dividen 19 Juni 2026. Daftar pemegang saham yang berhak dikunci per 18 Juni 2026 pukul 16.00 WIB, pembayaran dijadwalkan 3 Juli 2026.
Fondasinya? Jauh menyusut. MEDC membukukan laba bersih USD100,92 juta sepanjang 2025, amblas dari USD367 juta pada 2024. Tekanan datang dari beberapa arah sekaligus: harga minyak rata-rata rontok sekitar 15% ke USD67 per barel dari USD78 per barel setahun sebelumnya, harga gas tergerus dari USD7,0 ke USD6,8 per mmbtu, kontribusi Amman Mineral Internasional yang lebih tipis, ditambah penurunan nilai aset non-kas dan biaya dry hole di PSC Beluga.
Masalahnya, EBITDA perseroan justru bertahan di level USD1,26 miliar, setara capaian 2024. Produksi minyak dan gas bahkan meningkat menjadi 156 mboepd, didorong Lapangan Terubuk dan Forel di South Natuna Sea Block B serta aset di Oman, dengan produksi akhir tahun menembus 170 mboepd. Penjualan listrik tercatat 4.371 GWh. Bak pedang bermata dua: operasional solid, tapi harga komoditas menghajar margin.
CEO MedcoEnergi Roberto Lorato menyebutnya kinerja yang kuat. "Kami membukukan kinerja yang kuat dengan pencapaian produksi minyak dan gas sebesar 156 mboepd serta penjualan listrik 4.371 GWh," kata dia. Direktur Utama Hilmi Panigoro, dalam siaran pers April 2026, menambahkan bahwa dirinya puas dengan hasil 2025 dan berkomitmen memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan meski lingkungan harga komoditas sedang tidak bersahabat.
Total ekuitas MEDC tercatat USD2,36 miliar di akhir 2025. Neraca yang agaknya masih cukup kokoh untuk menopang kebijakan dividen seagresif ini. Pertanyaannya buat investor: apakah payout ratio 44,6% dengan laba yang tertekan ini bisa dipertahankan kalau harga minyak global belum juga pulih ke level nyaman? Entah kebetulan atau tidak, pasar sudah tahu jawabannya lebih dulu.