JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MBG Jalan Lagi, Harga Ayam dan Cabai di Pasar Sura...

Ekonomi

MBG Jalan Lagi, Harga Ayam dan Cabai di Pasar Surabaya Langsung Terkerek

Program Makan Bergizi Gratis yang kembali beroperasi sejak 13 Juli 2026 langsung terasa imbasnya di pasar: harga ayam broiler naik 4,11% dalam sepekan, sementara cabai besar di Surabaya melonjak hingga 50% dibanding saat program libur.

MBG Berjalan Lagi, Bapanas Mengklaim Harga Telur dan Ayam Kembali Naik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru berjalan beberapa hari, harga ayam dan cabai sudah bergerak. Bukan kebetulan, dan semua pihak di rantai pasok sepertinya sudah tahu ini akan terjadi.

Sejak MBG kembali aktif pada Senin, 13 Juli 2026, bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, tekanan permintaan langsung terasa hingga ke level pedagang pasar. Di Pasar Keputran Surabaya, daging ayam kini dijual di kisaran Rp 35.000 per kilogram. Naik sekitar Rp 5.000 dibanding saat MBG libur di periode liburan sekolah yang sempat menyentuh Rp 30.000. Nurhalimah, salah satu pedagang di sana, bilang kenaikan terjadi bertahap sejak hari pertama sekolah masuk, sekitar Rp 2.000 per hari.

Di level peternak, data Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan rata-rata harga ayam broiler tingkat produsen per 14 Juli sudah menyentuh Rp 21.736 per kilogram berat hidup, naik 4,11% hanya dalam sepekan dari posisi Rp 20.878. Angka nasional itu, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya masih menyembunyikan disparitas yang cukup lebar antar daerah. Di Sumatra Selatan harga masih di kisaran Rp 18.125 per kilogram. Di Riau sudah melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen yang ditetapkan Rp 25.000, yakni menembus Rp 25.600 per kilogram.

Telur ayam ras juga ikut bergerak. Per 14 Juli, rata-rata nasional tercatat Rp 22.644 per kilogram, naik 0,66% dari sepekan sebelumnya yang masih di Rp 22.495. Data Siskaperbapo Jawa Timur mencatat harga telur di wilayah itu sudah di angka Rp 23.507 per kilogram. Kenaikannya lebih moderat dibanding ayam, tapi tren arahnya sama.

"Jadi MBG itu ada pengaruhnya. Mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini sudah mulai naik," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026). Ketut menyebut ada dua faktor yang bekerja bersamaan: berakhirnya bulan Suro yang secara kultural menekan permintaan akibat minimnya hajatan dan pesta pernikahan, ditambah serapan rutin MBG yang kini kembali menyedot komoditas unggas secara masif. Buat peternak yang sebelumnya merugi karena harga tergerus di bawah titik impas, ini bak gayung bersambut.

Dampaknya tidak berhenti di ayam dan telur. Di Pasar Keputran, cabai besar juga ikut melonjak dari kisaran Rp 18.000-20.000 per kilogram saat MBG libur menjadi Rp 27.000-30.000 sekarang. Kenaikan sekitar 50%. Rahman, pedagang cabai di pasar yang sama, cukup terus terang soal persepsinya: "Kalau enggak ada MBG enak, harganya murah." Bawang putih tak kalah dramatis, dari Rp 25.000 melompat ke Rp 35.000 per kilogram dalam hitungan hari.

Bagi pedagang, situasi ini ibarat pedang bermata dua. Harga naik, tapi ruang untuk meneruskan kenaikan ke konsumen sempit. Marjono, pedagang ayam lain di Keputran, mengakui margin makin terjepit karena konsumen ogah membeli di atas Rp 32.000. "Ya mahal atau murah tetap ada pembeli, tetap ramai, tapi kita jadinya ambil untungnya cuma kecil," katanya.

Pertanyaannya, seberapa lama kenaikan ini bisa bertahan sebelum sisi suplai menyesuaikan diri dan harga kembali termoderasi? Ketut optimistis momentum pemulihan akan berlanjut seiring normalisasi permintaan pasca-Suro dan serapan rutin MBG. Setidaknya itu klaim manajemen kebijakan pangan. Di sisi pedagang dan peternak, perhitungannya jauh lebih sederhana: selama sekolah masuk dan program berjalan, jangan harap harga turun.