SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MBG Aktif Lagi, Harga Ayam dan Telur Langsung Mera...

Ekonomi

MBG Aktif Lagi, Harga Ayam dan Telur Langsung Merangsek Naik

Beroperasinya kembali dapur Program Makan Bergizi Gratis bersamaan dengan tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi pemicu utama lonjakan harga ayam potong dan telur ayam di sejumlah pasar tradisional dari Malang hingga Lebak.

"Sekolah Masuk, MBG Berjalan, Harga-harga Kebutuhan Pokok Naik"

Dua pekan libur sekolah sempat memberi napas bagi dompet ibu rumah tangga. Harga telur turun, ayam potong longgar, dan pedagang pasar tradisional pun ikut mengeluh sepi. Tapi begitu bel sekolah kembali berbunyi dan dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai mengepul lagi, pasar langsung merespons.

Harga ayam potong dan telur ayam kini melonjak serentak di sejumlah daerah, dari Malang, Bangkalan, Palembang, hingga Rangkasbitung. Para pedagang tidak perlu menunggu pengumuman resmi untuk tahu apa penyebabnya: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali aktif bersamaan dengan masuknya tahun ajaran baru 2026/2027.

Di Pasar Klojen, Malang, harga ayam potong melonjak dari Rp26.000 menjadi Rp32.000 per kilogram dalam sepekan terakhir, naik Rp6.000. Di Pasar Rangkasbitung, Lebak, kenaikannya bahkan lebih tajam, dari Rp30.000 ke Rp36.000 per kilogram. Di Bangkalan, ayam yang sebelumnya berkisar Rp28.000 hingga Rp29.000 per kilogram kini dipatok Rp34.000. Bukan kenaikan kecil.

Telur tidak kalah dramatis. Di Palembang, harga terkerek dari Rp22.000 ke Rp24.000 per kilogram setelah enam kali penyesuaian masing-masing Rp500. Di Bangkalan, kenaikannya lebih terasa: dari Rp23.000 menjadi Rp26.000 per kilogram. Di Lebak, angkanya bahkan menyentuh Rp29.000 dari sebelumnya Rp22.000 per kilogram.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 16 Juli 2026 mencatat rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak mencapai Rp22.032 per kilogram, naik 5,53% dibanding sepekan sebelumnya sebesar Rp20.878 per kilogram. Harga telur ayam ras di tingkat peternak ikut terkerek 2,2% menjadi rata-rata Rp22.989 per kilogram. Di Sulawesi Utara, harga telur sudah melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP), menyentuh Rp27.067 per kilogram.

Di sisi hulu, kondisi ini disambut lega oleh peternak. Selama beberapa pekan sebelumnya, harga telur sempat nyungsep ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram di tingkat peternak, jauh di bawah HAP. Kombinasi bulan Suro yang secara kultural menekan konsumsi masyarakat Jawa dan berhentinya MBG selama libur sekolah membuat permintaan amblas.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, menyebut dua faktor itu sebagai biang kerok pelemahan harga. "Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand dari masyarakat itu turun," katanya. Kini, dengan sekolah masuk dan MBG berjalan lagi, harga merangkak ke kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram di tingkat peternak, meski masih di bawah HAP.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, meminta semua pihak memberi ruang bagi peternak untuk menikmati pemulihan ini. "Jadi MBG itu ada pengaruhnya, dengan melewati bulan Suro sekaligus mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik. Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ujarnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengamini bahwa kembali beroperasinya dapur SPPG menjadi faktor kunci penyerapan hasil peternak. Satu dapur SPPG saja, katanya, membutuhkan sekitar 1,86 ton telur per bulan. Kalikan dengan ribuan dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia, dan angkanya bukan main.

Tapi di hilir, ceritanya lain. Di Pasar Klojen, Diana, pedagang ayam potong, mengaku dagangannya masih banyak tersisa menjelang siang meski hari sudah hampir pukul 11.00 WIB. Dari 30 ekor ayam yang dibawa, hampir separuh belum terjual. "Semenjak semua naik, pasar pasti sepi. Ketambahan lagi barengan dengan kebutuhan anak sekolah, itu juga makin memperparah," katanya.

Kenaikan bukan hanya pada ayam dan telur. Di Malang, cabai rawit melonjak dari Rp28.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Mentimun naik lebih dari dua kali lipat, dari Rp6.000 ke Rp13.000 per kilogram. Kacang panjang merangkak dari Rp8.000 ke Rp14.000 per kilogram. Agaknya efek MBG tidak berhenti di protein hewani saja. Pertanyaannya, berapa lama tekanan harga ini bertahan?

Para konsumen tidak banyak pilihan. "Di pasar atau di toko sembako harganya sama, naik semua. Jadi ya mau tidak mau tetap dibeli," ujar Siti Aminah, warga Bangkalan. Ia berharap kenaikan tidak merambat ke komoditas lain. Harapan yang masuk akal, tapi sulit dijamin ketika permintaan sedang meningkat dari segala penjuru sekaligus.