KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Manufaktur RI Ekspansif, Tapi IKI Agustus Mulai Ke...

Ekonomi

Manufaktur RI Ekspansif, Tapi IKI Agustus Mulai Kendur

Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% di kuartal II-2026, melampaui PDB nasional. Namun Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2026 turun 0,80 poin ke level 52,30 karena pelaku usaha masih menunggu kepastian pasar.

Industry Minister Shares Why Indonesian Factories Are Putting Production on Hold - News En.tempo.co

Sepanjang kuartal II-2026, industri pengolahan nonmigas (IPNM) tumbuh 5,32% secara tahunan, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29%. Selisihnya memang tipis. Tapi maknanya tidak, manufaktur bukan sekadar ikut-ikutan tumbuh, ia yang memimpin.

Kontribusi sektor pengolahan terhadap PDB mencapai 18,50%, menjadikannya kontributor terbesar dalam struktur ekonomi Indonesia. Andilnya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga paling besar, 0,90 persen. Kinerja itulah yang membuat Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita tampil percaya diri merespons pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Tahunan MPR, 14 Agustus lalu.

"Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Ini menjadi modal yang sangat penting untuk terus memperbesar peranan industri sebagai motor penggerak ekonomi," tutur Agus.

Subsektor pendorong utamanya: industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik, yang melesat 8,04% berkat permintaan global atas komponen elektronik dan baterai. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51%. Kimia dan farmasi naik 4,99%.

Indikator kepercayaan pelaku industri juga terbaca ekspansif, setidaknya sampai Juli. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di 52,31, PMI Manufaktur Juli 2026 di level 50,2, dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 di 53,10. Tiga-tiganya melampaui ambang 50, alias zona ekspansi.

Tapi angka Agustus lain ceritanya.

IKI Agustus 2026 turun ke 52,30, melorot 0,80 poin dari bulan sebelumnya. Dibanding Agustus 2025, koreksinya lebih dalam: minus 1,25 poin dari posisi 53,55. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan bahwa pelaku usaha masih menunggu perbaikan kondisi pasar, baik domestik maupun ekspor. "Industri menahan melepas barangnya ke pasar domestik atau ekspor karena menunggu berbagai perubahan perbaikan pasar domestik maupun ekspor," sebut Febri dalam pemaparan IKI Agustus, Senin (31/8).

Tanda-tandanya terlihat dari variabel pembentuk IKI. Pesanan baru melambat 0,67 poin ke level 53,13. Persediaan produk ambles 3,16 poin ke 46,02, masuk zona kontraksi. Hanya produksi yang masih naik, 0,55 poin ke 55,10. Pabrik masih jalan, tapi barang menumpuk di gudang. Bukan kombinasi yang nyaman.

Dari sisi ekspor, biaya logistik luar negeri yang melonjak ikut memukul dari dua arah: pembelian bahan baku impor makin mahal, ongkos pengiriman ke pasar global juga bengkak. IKI berorientasi ekspor turun ke 53,09, IKI domestik melemah ke 51,13. Keduanya masih di zona hijau, tapi trennya jelas sedang melandai.

Dari 23 subsektor yang dianalisis, 22 masih ekspansif. Yang paling mencolok di Agustus justru makanan dan minuman, sebagian karena kenaikan harga CPO di pasar ekspor. Febri menyebut ada faktor penundaan permintaan CPO domestik terkait transisi kebijakan biodiesel dari B40 ke B50, dan berharap kebijakan ketahanan energi Presiden Prabowo akan mendorong permintaan kembali menguat. Satu subsektor yang tergelincir ke zona kontraksi: industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.

Di level makro, Kemenperin menjalankan Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) dengan fokus pada hilirisasi, substitusi impor, dan penguatan rantai pasok domestik. Presiden Prabowo dalam pidatonya menyebutkan realisasi investasi 2025 menembus Rp1.931 triliun dan menciptakan 2,7 juta lapangan kerja. Semester I-2026 sudah Rp1.010 triliun dengan 1,4 juta lapangan kerja tercipta.

Agus juga menyoroti impor barang konsumsi yang melonjak 27,15% secara tahunan, sinyal bahwa pasar domestik bergairah tapi belum cukup banyak diserap produk lokal. Andil net ekspor pun masih negatif 0,78% terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal II. Dua catatan itu, agaknya, yang membuat optimisme pelaku industri untuk enam bulan ke depan sedikit mendingin: dari 67,8% di Juli, turun ke 66,6% di Agustus.

Manufaktur Indonesia masih ekspansif. Tapi "masih ekspansif" dan "sedang menguat" adalah dua hal yang berbeda, dan pasar tahu persis mana yang mana.