SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Mangalyaan: Ketika India Taklukkan Mars dengan Bud...

Tekno

Mangalyaan: Ketika India Taklukkan Mars dengan Budget Film Hollywood

Mars Orbiter Mission milik India bukan cuma soal mencapai orbit Mars dalam sekali percobaan. Ini soal membuktikan bahwa teknologi antariksa kelas dunia bisa dibangun tanpa menguras perbendaharaan negara.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) berpelukan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi (kiri) usai keduanya menyampaikan keterangan pers dalam kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026)

Dengan anggaran US$73 juta, India melakukan apa yang gagal dilakukan NASA, Uni Soviet, dan ESA pada percobaan pertama mereka masing-masing: menempatkan wahana di orbit Mars, mulus, tanpa insiden.

Mars Orbiter Mission (MOM), atau Mangalyaan dalam bahasa Hindi, diluncurkan ISRO pada 5 November 2013 dari Satish Dhawan Space Centre menggunakan roket PSLV-C25. Perjalanan antariksa sejauh ratusan juta kilometer itu memakan waktu sekitar 300 hari, sebelum akhirnya wahana tersebut berhasil memasuki orbit Mars tepat pada 24 September 2014. Satu kali berangkat, langsung masuk orbit. Belum ada yang pernah melakukannya sebelum India.

Angka US$73 hingga 74 juta, atau sekitar Rp1,1 triliun dengan kurs saat peluncuran, terasa ganjil jika dibandingkan dengan skala ambisinya. Misi-misi Mars dari negara-negara Barat kerap menghabiskan anggaran miliaran dolar. Jujur saja, biaya Mangalyaan bahkan lebih kecil dari bujet produksi sejumlah film Hollywood saat itu. Bukan bahan bercanda, melainkan cerminan betapa efisiennya ISRO dalam mengalokasikan sumber daya teknis mereka.

Lima instrumen ilmiah dibawa wahana ini untuk mempelajari Planet Merah dari dekat: karakteristik permukaan, komposisi mineral, hingga lapisan atmosfer tipis yang menyelimuti Mars. Tujuan utamanya memang lebih ke pembuktian teknologi daripada riset sains murni, yakni menguji kemampuan India dalam navigasi presisi jarak jauh, komunikasi antarplanet, dan manuver orbital yang kompleks. Semua berhasil.

Yang lebih mengejutkan adalah daya tahannya. Mangalyaan awalnya cuma dirancang bertahan enam hingga sepuluh bulan di orbit. Kenyataannya, wahana ini beroperasi hampir delapan tahun penuh, terus mengirimkan data ilmiah dan citra permukaan Mars yang tajam, sebelum akhirnya kehilangan komunikasi dengan Bumi pada April 2022. Delapan tahun. Kalau data ini bisa dipercaya, agaknya para insinyur ISRO sendiri tidak menyangkanya bakal setangguh itu.

Prestasi ini punya dampak yang jauh melampaui satu misi. Mangalyaan membuktikan bahwa ISRO sudah menguasai fondasi teknologi antariksa dalam: navigasi presisi, sistem komunikasi ruang angkasa, hingga manuver orbital yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Pengalaman itu yang kemudian menjadi bekal bagi Chandrayaan-3, misi yang pada 2023 berhasil mendaratkan wahana di kutub selatan Bulan, lagi-lagi sebagai yang pertama di dunia.

India kini bukan sekadar pemain baru dalam antariksa. Mangalyaan adalah kartu nama yang mereka sodorkan ke dunia: eksplorasi planet tidak harus jadi monopoli negara-negara dengan anggaran jumbo. Pertanyaannya, siapa berikutnya yang akan membuktikan hal serupa? Bisa jadi, itulah warisan terpenting dari misi yang namanya masih diucapkan dengan hormat di koridor-koridor ISRO hingga hari ini.