MacBook Neo sudah mengantongi sertifikasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Terdaftar dengan nomor model A3404 dan nomor sertifikat 120406/DJID/2026 yang diterbitkan 8 April 2026, pengajuannya dilakukan langsung oleh Apple Indonesia. Secara regulasi, laptop ini tinggal selangkah dari rak toko.
Belum ada pengumuman resmi soal tanggal peluncuran maupun harga lokal. Tapi berbekal harga global yang dipatok mulai USD 599 atau sekitar Rp9,8 jutaan untuk varian 256GB, dan USD 699 (sekitar Rp11,4 jutaan) untuk varian 512GB, MacBook Neo berpotensi jadi entri paling terjangkau dalam sejarah lini MacBook.
Terjangkau, tapi bukan berarti tanpa amunisi.
Laptop ini ditenagai chip A18 Pro, prosesor yang sebelumnya menghuni iPhone 16 Pro. Bedanya, chip yang dipakai di MacBook Neo adalah unit "binned" alias chip sisa yang GPU-nya sedikit cacat, sehingga hanya punya lima inti GPU, bukan enam seperti di iPhone 16 Pro. Strategi daur ulang komponen inilah yang memungkinkan Apple menekan harga ke level yang sebelumnya tidak terbayangkan untuk sebuah MacBook. Layar Liquid Retina 13 inci beresolusi 2.408 x 1.506 piksel, RAM 8GB, baterai diklaim tahan 16 jam, bobot 1,2 kg, kamera FaceTime 1080p, speaker Dolby Atmos. Cukup kompetitif untuk kelasnya.
Soal performa, bukan sekadar klaim di atas kertas. MacBook Neo mampu menjalankan pengeditan video 4K tanpa lag berarti, bahkan dengan RAM yang "cuma" 8GB. Konsistensi performa saat baterai juga jadi nilai lebih karena tidak mengalami throttling seperti kebanyakan laptop Windows di rentang harga serupa. Tanpa kipas, tanpa berisik.
Pasar menyambut dengan antusias yang agaknya mengejutkan Apple sendiri.
Dua pekan setelah pre-order dibuka, CEO Tim Cook menyebut Mac mencatat "minggu peluncuran terbaik yang pernah ada untuk pelanggan baru", setidaknya itu klaim manajemen, yang sekaligus mengonfirmasi bahwa MacBook Neo berhasil menggaet pengguna yang sebelumnya belum pernah menyentuh ekosistem Apple. Konsumen di Amerika Serikat kini harus antre 2-3 minggu untuk semua konfigurasi.
Masalahnya, kesuksesan ini justru menciptakan dilema yang pelik.
Menurut analisis analis Tim Culpan, Apple sejak awal hanya merencanakan produksi sekitar 5 hingga 6 juta unit MacBook Neo menggunakan stok chip A18 Pro binned yang sudah ada. Stok itu kini dilaporkan hampir habis, sementara permintaan masih terus mengalir. Lini produksi chip 3nm TSMC diklaim sudah beroperasi di kapasitas maksimal, artinya Apple harus membayar lebih mahal untuk memesan chip baru, dan itu langsung menggerus margin.
Empat opsi kini tersedia di meja Apple. Pertama, memesan chip A18 Pro baru dari TSMC dengan biaya lebih tinggi. Kedua, menghapus varian termurah USD 599 dan hanya menjual model 512GB seharga USD 699 agar perhitungan tetap positif. Ketiga, membiarkan stok habis dan menunggu hingga pertengahan 2027 untuk generasi berikutnya. Keempat, mempercepat peluncuran MacBook Neo generasi kedua dengan chip A19 Pro, opsi yang juga berbiaya tinggi sampai stok chip A19 Pro binned cukup tersedia.
Tidak ada yang benar-benar nyaman.
Buat pasar Indonesia, situasi ini punya dua implikasi sekaligus. Peluncuran resmi agaknya tidak akan lama lagi, Apple biasanya mendaftarkan perangkat ke Postel menjelang rilis, bukan bertahun-tahun sebelumnya. Tapi kalau Apple memutuskan memangkas varian 256GB dari peredaran global, pilihan yang masuk ke sini kemungkinan hanya varian 512GB dengan banderol lebih tinggi.
Kompetitor lokal sudah bersiap. Brama Setyadi, Head of PR & Digital Asus Indonesia, menanggapi kabar ini dengan nada santai. "Kami melihat ini sebagai bagian dari dinamika industri. Kehadiran MacBook NEO memperkaya pilihan konsumen, sementara ekosistem Windows tetap unggul dari sisi fleksibilitas dan variasi," ujarnya kepada Selular.id. Di kisaran Rp10 jutaan, Asus menyodorkan Vivobook 14, Vivobook 15, hingga Zenbook 14 dan varian entry TUF Gaming F15 sebagai alternatif, masing-masing dengan konfigurasi yang mustahil ditawarkan MacBook Neo: GPU diskret, slot RAM yang bisa di-upgrade, layar 144Hz.
Dua ekosistem, dua filosofi. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah MacBook Neo akan masuk Indonesia. Yang lebih menarik justru: dalam kondisi seperti apa perangkat itu tiba, varian lengkap, atau sudah dipangkas lebih dulu oleh krisis chip yang ironisnya lahir dari kesuksesannya sendiri?