Angka 13,41 persen itu yang seharusnya bikin kita berhenti sejenak.
Itulah tingkat inklusi keuangan syariah masyarakat Indonesia hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik. Satu dari delapan orang. Di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Indeks literasinya sedikit lebih baik, tapi jauh dari memuaskan: 43,42 persen. Lebih dari separuh masyarakat belum benar-benar paham apa itu perbankan syariah, bagaimana cara kerjanya, dan apa bedanya dengan bank konvensional yang sudah puluhan tahun lekat di keseharian mereka.
Adi Sucipto Dwi Prasetyo, Asisten Direktur OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, tidak menutup-nutupi kondisi ini ketika berbicara di Aula RRI Makassar, Rabu, 8 April 2026. Ia menyebut salah satu akar masalahnya sederhana tapi pelik: masyarakat terlanjur akrab dengan sistem konvensional, dan banyak yang menganggap dua jenis perbankan ini pada dasarnya sama saja.
"Jadi, cukup miris melihat bahwa literasi dan inklusi keuangan syariah masyarakat rendah, padahal negara kita sebagian besar penduduknya adalah Muslim," kata Adi.
Bukan tanpa sebab kondisi ini bertahan sekian lama. Perbankan konvensional punya keunggulan historis yang tidak bisa diabaikan: jaringan lebih luas, produk lebih familiar, dan yang paling menentukan, sudah terpatri dalam kebiasaan. Mengubah kebiasaan finansial seseorang, agaknya, jauh lebih berat dari sekadar membangun kantor cabang baru.
OJK merespons dengan pendekatan yang turun ke akar rumput. Edukasi langsung ke sekolah, kampus, desa, hingga bermitra dengan media publik seperti RRI. Gerakannya tidak spektakuler. Tapi konsisten.
Pertanyaannya, berapa lama pendekatan pelan-pelan seperti ini bisa menggeser jarum angka inklusivitas yang stagnan?
OJK sendiri mengakui tidak punya target tahunan yang spesifik dalam mendorong adopsi perbankan syariah. Fokusnya lebih ke peningkatan literasi dan akses, dengan asumsi pemahaman yang baik akan mendorong pilihan yang lebih sadar. Klaim yang masih perlu dibuktikan oleh angka-angka survei berikutnya, kalau data itu bisa dipercaya sebagai cermin kondisi riil.
"Ini menjadi pekerjaan rumah kita, karena baik dari sisi literasi dan akses, masih banyak masyarakat yang memilih konvensional," tambah Adi.
Buat pelaku industri keuangan syariah, data SNLIK 2025 ini ibarat cermin retak yang tidak nyaman dipandang. Potensi pasarnya raksasa, konversi aktualnya masih jauh tertinggal. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah masyarakat butuh perbankan syariah, tapi mengapa narasi itu belum juga sampai dengan cara yang benar, setelah bertahun-tahun dicoba.