SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Listrik Nasional Aman, tapi Bos PLN Sudah Keringat...

Ekonomi

Listrik Nasional Aman, tapi Bos PLN Sudah Keringat Dingin soal LNG

Sistem kelistrikan nasional hingga Maret 2026 masih andal dengan reserve margin 39%, namun Dirut PLN Darmawan Prasodjo memperingatkan lonjakan harga LNG spot hingga USD 20 per MMBTU sebagai alarm ketergantungan energi impor.

Harga LNG di pasar spot sudah menyentuh USD 19-20 per MMBTU. Kalau dikonversi ke biaya produksi listrik, angka itu setara dengan hampir 14 sen dolar per kWh, hanya untuk komponen bahan bakar. Belum termasuk apa-apa.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyebut situasi ini sebagai wake up call, peringatan keras soal bahaya ketergantungan pada energi impor. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026), ironis, karena laporan kondisi kelistrikan nasional yang dibacakan hari yang sama intinya satu kata: aman.

Sistem kelistrikan nasional per Maret 2026 memang terpantau normal. Daya mampu netto (DMN) nasional tercatat 71,15 gigawatt dengan reserve margin 39%. Di Jawa, Madura, dan Bali, daya mampu mencapai 49 GW dengan RM 39,2%. Sumatra-Bangka menyusul, 11,9 GW dengan RM 38,2%. Cadangan batu bara nasional hingga April 2026 berada di angka 15,9 hari operasi, meski Jawa-Bali tercatat paling tipis stoknya.

Di atas kertas, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Yang membuat Darmawan angkat suara justru bukan kondisi hari ini, melainkan skenario kalau situasi global memburuk lebih jauh. Harga minyak dunia sempat melampaui USD 100 per barel, dan karena LNG berkorelasi erat dengan minyak global, dampaknya langsung merambat ke pasar spot gas. Tekanan makin berat lantaran gangguan produksi di Qatar mencapai sekitar 5 juta ton per tahun, dan pemulihan diperkirakan butuh waktu hingga lima tahun.

"Jadi geopolitiknya gimana? Ini wake up call, energi berbasis pada impor, begitu kami cek di Japan Korean Market LNG harganya USD 9, masih mungkin kami mendapatkan kargo tersebut. Tapi untuk hari ini, alhamdulillah alokasi dari pemerintah cukup sehingga kami tidak perlu impor LNG, kalau kami harus impor, rasanya berat," ujar Darmawan.

Kata "rasanya berat" itu bukan retorika biasa. PLN mengunci sebagian besar pasokan gasnya lewat kontrak jangka panjang dengan harga yang sudah ditetapkan. Tapi kalau kebutuhan mendadak naik dan mereka harus berburu kargo ekstra di spot market, itulah jebaknya. Bandingkan: Japan-Korea Marker sempat berada di kisaran USD 9 per MMBTU. Harga spot USD 20 itu lebih dari dua kali lipatnya.

Untuk saat ini, cadangan gas pembangkit PLN masih di kisaran 12 hari operasi, cukup untuk menjamin pasokan berjalan tanpa gangguan berarti. Pengiriman LNG juga sudah terjadwal rapi.

Pertanyaannya sederhana: seberapa lama "alhamdulillah" ini bisa bertahan kalau geopolitik global terus memanas? Darmawan mengapresiasi dukungan Kementerian ESDM dalam menjaga pemenuhan gas nasional, sekaligus mendorong agar cadangan batu bara terus meningkat. Agaknya, di balik laporan yang terkesan tenang itu, ada kegelisahan yang sengaja ia suarakan keras-keras di hadapan DPR.