Pertemuan bilateral Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai akhir pekan ini menghasilkan peta jalan kerja sama yang jauh lebih konkret dibanding sekadar pernyataan niat baik.
Airlangga memetakan sedikitnya lima kerangka kerja sama yang siap direalisasikan, mencakup pengembangan kawasan industri bersama, penyelarasan investasi lewat Danantara, energi surya, penguatan RCEP, hingga persiapan APEC 2026. Ambisinya besar. Pertanyaannya, berapa banyak yang benar-benar akan mendarat jadi investasi nyata.
100 gigawatt. Itulah angka kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang Indonesia tawarkan kepada investor China, target yang sekarang punya tenggat lebih jelas karena Kementerian ESDM menetapkan realisasinya pada 2029, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto soal transisi energi. Indonesia juga menyebut proyek PLTS Terapung Cirata sebagai bukti bahwa kerja sama semacam ini bisa berjalan, bukan cuma wacana.
Untuk kawasan industri, program Two Countries Twin Parks (TCTP) sudah mengumpulkan 30 nota kesepahaman dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp37,1 triliun. "Berbagai nota kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata. Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret," kata Airlangga. Kalimat itu agaknya sekaligus sinyal bahwa banyak kesepakatan serupa di masa lalu yang mandek di tataran formalitas.
Konteks angka perdagangannya cukup berat. Nilai dagang dua negara pada 2025 mencapai USD154,6 miliar, tumbuh rata-rata 7,24 persen selama 2021-2025. China juga bertengger sebagai satu dari tiga investor asing terbesar di Indonesia, dengan realisasi hampir USD8,1 miliar tahun lalu, sekitar 13 persen dari total foreign direct investment yang masuk. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin tren jangka panjang, hubungan ekonomi kedua negara terbilang kokoh. Tapi Indonesia masih bergulat dengan defisit perdagangan yang kerap membuat pemerintah tidak nyaman, dan itulah sebabnya Airlangga menekankan perlunya hubungan dagang yang lebih seimbang.
Masuknya Danantara sebagai calon mitra strategis investor China menjadi elemen yang menarik untuk dicermati. Pemerintah tampaknya ingin memakai sovereign wealth fund itu sebagai pintu masuk investasi berkualitas sekaligus alat tawar dalam negosiasi proyek-proyek prioritas. Bisa jadi langkah cerdas, bisa jadi juga beban tambahan bagi lembaga yang masih relatif hijau.
Airlangga juga menyinggung inisiatif RCEP 3.0 agar perjanjian dagang regional itu lebih relevan dengan dinamika rantai pasok global dan transformasi digital. Indonesia dan China, sebagai dua ekonomi terbesar di blok itu, punya kepentingan bersama mendorong agenda ini maju, terutama kala tekanan proteksionisme dari negara-negara Barat kian keras.
APEC 2026 ikut disebut sebagai momentum yang ingin diisi proyek-proyek siap umumkan, bukan komunike diplomatik semata. "Kami berharap pertemuan ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama dan proyek yang konkret sehingga memberikan manfaat seimbang dan saling menguntungkan bagi kedua negara," tutup Airlangga.
Semua ini terdengar komprehensif. Tapi investor ritel perlu ingat: realisasi investasi China ke Indonesia memang impresif, tapi distribusinya terkonsentrasi di industri pengolahan, energi, dan hilirisasi komoditas. Kalau kerangka kerja sama kali ini benar-benar bisa menarik transfer teknologi dan membangun rantai pasok panel surya yang terintegrasi di dalam negeri, dampaknya ke sektor manufaktur lokal bisa bikin pasar bersemangat. Kalau tidak, angka Rp37,1 triliun itu akan tetap jadi angka yang bagus dibaca di siaran pers.