Sepanjang tiga bulan yang berakhir Maret lalu, Lenovo membukukan pendapatan $21,60 miliar, tumbuh 27% secara tahunan. Ini laju pertumbuhan kuartalan terkuat dalam lima tahun terakhir. Pasar merespons keras: saham melesat 20% setelah pengumuman, menuju level penutupan tertinggi sejak perusahaan melantai di bursa pada 1994.
Laba bersihnya? Meledak. Lenovo meraup $521 juta, hampir enam kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya, jauh melampaui konsensus analis di $291 juta menurut jajak pendapat FactSet. Laba bersih yang disesuaikan juga berlipat ganda menjadi $559 juta. Untuk keseluruhan tahun fiskal, pendapatan tercatat $83,1 miliar, dengan pendapatan terkait AI menyumbang 38% dari total.
CEO Yang Yuanqing menyebut ini sebagai titik balik bagi perusahaan. Dari situ, Lenovo menetapkan target ambisius: pendapatan tahunan $100 miliar dalam dua tahun, ditopang tiga mesin pertumbuhan, yaitu infrastruktur AI, ekspansi layanan, dan kepemimpinan di pasar perangkat.
Strategi yang diusung adalah pendekatan "AI hybrid" atau "pocket to cloud". Logikanya sederhana tapi masuk akal: satu model AI berbasis cloud tidak bisa melayani semua kebutuhan. Dengan mengintegrasikan AI di tiga lapisan sekaligus, dari perangkat pribadi, edge computing, hingga cloud, Lenovo mengklaim bisa menjaga keamanan data sensitif, menekan biaya operasional, sekaligus memberikan respons yang lebih cepat. Pertanyaannya, berapa lama klaim ini bertahan ketika klien enterprise mulai menagih bukti ROI nyata?
Di sisi perangkat, lini ThinkPad dan Yoga kini dibekali NPU (Neural Processing Unit) untuk pemrosesan AI secara lokal, tanpa perlu mengirim data ke server eksternal. Motorola mengikuti jalur serupa lewat fitur Moto AI di seri Edge 60 Pro dan Edge 60 Fusion.
Untuk segmen enterprise, Lenovo bermitra dengan NVIDIA dan AMD guna menghadirkan server inferensi dan pelatihan AI skala rak. Pembeda utama mereka adalah sistem pendingin cair Neptune, yang diklaim mampu memangkas konsumsi energi pusat data, relevan karena pendinginan cair kini menjadi standar de facto di instalasi AI baru. Lembaga riset DBS sebelumnya memproyeksikan bisnis server Lenovo bisa meraih profitabilitas berkelanjutan mulai tahun fiskal baru, bak gayung bersambut dengan tren itu.
Di Indonesia, langkah konkret strategi tersebut terlihat dari peluncuran ThinkStation PGX, workstation desktop berbasis arsitektur NVIDIA Blackwell yang ditujukan untuk developer dan profesional AI lokal. Bukan sekadar gerak penjualan. Ini sinyal bahwa Lenovo menganggap pasar Indonesia cukup matang untuk menyerap infrastruktur AI tingkat serius.
Dua platform layanan ikut diperkenalkan sebagai tulang punggung strategi hybrid ini. Pertama, Hybrid AI Advantage, platform terpadu yang menggabungkan perangkat keras, pustaka perangkat lunak AI, dan layanan orkestrasi data untuk menjawab pertanyaan ROI yang kerap jadi ganjalan korporasi. Kedua, TruScale, model langganan XaaS yang memungkinkan perusahaan menambah kapasitas AI tanpa harus menyiapkan belanja modal besar di muka.
Secara global, Lenovo masih bertahan sebagai produsen PC terbesar dunia dengan pangsa pasar 25% berdasarkan data pengiriman IDC kuartal pertama 2026. Komposisi PC premium kini menyentuh 50% dari total pengiriman, angka yang tidak main-main untuk pabrikan yang dulu identik dengan kelas menengah.
Tantangannya nyata. Ekspansi infrastruktur AI yang masif memicu kekurangan chip memori global, mendorong kenaikan harga dan menggerus kapasitas produksi untuk segmen PC dan smartphone. "Kekuatan rantai pasokan setiap vendor PC dan kemampuan untuk mengakses komponen inti, seperti memori, akan diuji," kata Jean Philippe Bouchard dari IDC. Yang Yuanqing berdalih Lenovo akan mengandalkan kekuatan rantai pasok dan komposisi produk yang lebih baik sebagai tameng, klaim yang agaknya masih perlu dibuktikan ketika tekanan harga memori benar-benar menggigit margin di kuartal-kuartal mendatang.