Dua tahun lalu, layar 120 Hz di ponsel Rp1,5 jutaan masih terasa seperti janji marketing yang terlalu muluk. Sekarang, itu sudah jadi standar minimum.
Parar smartphone entry level hingga midrange di 2026 sedang bergeser cukup serius. Para produsen, dari merek Tiongkok yang agresif hingga pemain baru yang belum banyak dikenal, kompak mendorong spesifikasi yang setahun lalu hanya ada di kelas Rp4 jutaan ke segmen harga jauh lebih rendah. Hasilnya, konsumen dengan budget Rp1,3 jutaan kini bisa pulang membawa perangkat dengan refresh rate 120 Hz, RAM 6 GB, dan baterai 5.000 mAh.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Villaon Hyper 100, nama yang mungkin belum akrab di telinga banyak orang. Spesifikasinya cukup untuk membuat orang menoleh dua kali. Di harga Rp1,4 jutaan, perangkat ini datang dengan layar 6,75 inci HD Plus ber-refresh rate 120 Hz, RAM 6 GB yang bisa diperluas virtual hingga 18 GB, penyimpanan 128 GB, dan sudah berjalan di Android 15. Tecno Spark GO 3 bermain di konfigurasi lebih modest, RAM 4 GB dengan penyimpanan 64 GB di kisaran Rp1,3 jutaan, tapi tetap menawarkan layar 6,74 inci yang nyaman untuk penggunaan harian.
Kompetisi ini bukan sekadar perang angka di kertas. Beberapa ponsel murah terbaru sudah menyematkan fast charging 45 watt dan kapasitas baterai di atas 6.000 mAh, fitur yang setahun lalu jadi alasan orang merogoh kocek dua kali lipat. Bahkan sertifikasi tahan air, yang dulu eksklusif milik flagship, kini mulai muncul di kelas harga terjangkau. Merek-merek seperti Poco, Realme, Tecno, Nubia, hingga Itel saling sikut mengisi slot yang sama. Brutal.
Naik ke segmen Rp2 jutaan, persaingannya agaknya lebih sengit lagi. Di titik harga ini, konsumen sudah bisa berharap mendapatkan kamera 50 MP, baterai jumbo mendekati 7.000 mAh, dan performa gaming yang tidak mengecewakan. Vivo, misalnya, membagi lini produknya ke dalam tiga seri, X, V, dan Y, untuk memastikan tidak ada segmen harga yang terlewat. Seri Y yang menyasar kantong hemat kini sudah dibekali fitur yang dulu hanya ada di seri V.
Xiaomi pun tidak tinggal diam. Di kelas premium, mereka terus menekan harga flagship agar tetap kompetitif secara global, sementara lini mid-range mereka turun mengisi celah yang ditinggalkan. Strategi ini, entah kebetulan atau tidak, semakin mempersempit ruang gerak merek lain yang mencoba mempertahankan margin. Bak pedang bermata dua bagi kompetitor: kalau ikut turun harga, margin tergerus; kalau bertahan, volume amblas.
Bagi investor yang mengikuti saham-saham distribusi elektronik atau ritel teknologi di bursa, tren ini layak dicermati. Margin per unit memang tertekan. Tapi volume penjualan di segmen entry level Indonesia, yang pasarnya masih sangat luas, bisa jadi kompensasi yang lebih dari cukup. Pertanyaannya tinggal: merek mana yang cukup kuat untuk menang perang harga panjang tanpa bakar uang terlalu dalam?