RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Lampu Kuning Pasar Kerja: 1,5 Juta Tenaga Kerja Te...

Ekonomi

Lampu Kuning Pasar Kerja: 1,5 Juta Tenaga Kerja Terdampar di Sektor Informal Tiap Tahun

Setiap tahun, sekitar 3,5 juta orang baru memasuki pasar tenaga kerja Indonesia, sementara sektor formal hanya sanggup menyerap 1,9 juta. Sisanya? Tergeser ke sektor informal, dan tren ini tidak membaik dalam tiga tahun terakhir.

Lampu Kuning Pasar Kerja RI, Lowongan Sektor Formal Makin Langka

Bayangkan satu lowongan kerja diserbu 500 hingga 600 pelamar sekaligus. Itulah realitas yang kini dihadapi jutaan pencari kerja di Indonesia, berdasarkan data platform JobStreet by SEEK per Maret 2026. Untuk posisi populer di perusahaan besar, angkanya bisa menembus ribuan pelamar per satu slot lowongan.

Tapi angka itu bukan sekadar statistik persaingan yang ketat. Di baliknya ada masalah struktural yang jauh lebih dalam, sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa tanda-tanda perbaikan.

Setiap tahun, sekitar 3,5 juta orang baru masuk ke pasar tenaga kerja nasional. Kapasitas penyerapan sektor formal? Hanya 1,9 juta jiwa per tahun, menurut riset Mandiri Institute dalam Policy Brief edisi Januari 2026. Defisit sekitar 1,5 juta itu tidak menghilang begitu saja, mereka bergeser ke sektor informal. "Dalam 3 tahun terakhir, tren defisit pasar kerja formal ini tidak membaik," tulis analis Mandiri Institute Johan Beni dalam riset tersebut.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam menyebut kondisi ini sudah masuk fase lampu kuning. Hitungannya sederhana tapi menyentak: dengan pertumbuhan ekonomi 5% dan asumsi investasi didominasi sektor padat karya, tenaga kerja yang bisa diserap hanya sekitar 2 juta orang. Kalau investasi condong ke sektor padat modal, angka itu bisa jauh lebih rendah. "Sehingga beban tenaga kerja yang masuk ke pasar kerja itu sangat berat," tegas Bob di DPR RI.

Artinya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi kini hanya menghasilkan 200.000 hingga 400.000 lapangan kerja baru. Tidak cukup. Sudah lama tidak cukup.

Yang membuat gambarannya makin kompleks adalah siapa yang paling terpukul. Mandiri Institute mencatat perpindahan ke sektor informal paling masif justru terjadi pada kelompok kelas menengah. Dibanding 2019 sebelum pandemi, indeks proporsi pekerjaan informal di kelompok ini naik 6 poin persentase pada 2025. Kelompok atas hanya naik 2 poin, sedangkan kelas bawah justru sedikit membaik. Ironi yang agaknya luput dari perhatian kebijakan selama ini.

Implikasinya bukan cuma soal nasib individu. Kelas menengah menyumbang sekitar 37% dari total konsumsi rumah tangga nasional. Kalau kualitas pekerjaan mereka terus merosot, tekanan terhadap daya beli domestik tinggal menunggu waktu. "Peningkatan pendapatan hanya dapat dicapai melalui perluasan kesempatan kerja dan perbaikan kualitas pekerjaan," tulis Johan dalam riset yang sama.

Di sisi pemerintah, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengakui SIAPKerja, sistem informasi lowongan kerja nasional di bawah Kemnaker, belum berjalan optimal. Salah satu soalnya: banyak perusahaan tidak melaporkan lowongan mereka ke platform tersebut, padahal itu kewajiban hukum. "Makanya kami terus mengejar ke kawasan ekonomi, kita mengejar kawasan industri, kita roadshow untuk mengingatkan bahwa itu adalah wajib, wajib lapor lowongan pekerjaan," ujar Yassierli di Kantor Kemnaker, Jakarta Selatan.

Solusi yang ditempuh: integrasi portal swasta ke dalam ekosistem SIAPKerja, bukan akuisisi. Sekitar enam portal sudah dalam proses integrasi, setara 50%-60% dari target awal. Data Pasar Kerja Kemnaker mencatat total 528.825 lowongan dari 57.531 perusahaan sepanjang Januari-April 2026. DKI Jakarta mendominasi dengan 132.141 lowongan, jauh di atas Jawa Barat dengan 61.141 lowongan dan Jawa Tengah dengan 50.006 lowongan.

Sebaran geografis yang timpang itu sendiri sudah jadi persoalan tersendiri, entah kapan akan benar-benar ditangani secara serius.

Di level global, kondisi serupa terjadi di Inggris yang mencatat jumlah lowongan kerja terendah dalam lima tahun terakhir. Tingkat pengangguran di sana merangkak ke 5% pada periode tiga bulan hingga Maret, naik dari 4,9% sebelumnya. Indonesia bukan satu-satunya yang kewalahan, tapi skala demografis kita membuat tekanannya terasa berlipat ganda.

Di kalangan pencari kerja muda, frustrasi itu melahirkan respons yang tak terduga. Sebagian mulai menggunakan aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble sebagai medium networking profesional, mengubah profil kencan menjadi semacam portofolio digital. Kreatif, memang, tapi juga cermin retak dari jalur formal yang terasa begitu tersumbat.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah ada masalah di pasar kerja Indonesia. Melainkan seberapa lama pemerintah dan dunia usaha punya waktu sebelum tekanan ini betul-betul meledak.