Laba Volkswagen AG tahun lalu amblas 44 persen. Bukan sekadar sinyal peringatan, alarm itu sudah berbunyi keras, dan manajemen tampaknya tidak punya banyak pilihan lain selain mengeksekusi langkah yang selama ini dianggap tidak terpikirkan: menutup empat pabrik sekaligus di tanah airnya sendiri.
Keempat fasilitas yang masuk daftar merah itu berlokasi di Hanover, Emden, dan Zwickau, plus pabrik Audi di Neckarsulm. Audi memang berada di bawah payung Grup VW, sehingga efisiensi di level grup otomatis menyeret merek-merek di dalamnya. Kalau rencana ini benar-benar dieksekusi, sekitar 45 ribu karyawan di keempat pabrik tersebut langsung merasakan dampaknya, belum terhitung lebih dari 100 ribu pekerja VW di seluruh dunia yang agaknya ikut kena getah restrukturisasi ini.
VW belum menetapkan tanggal pasti. Yang sudah terjadwal adalah rapat dewan 9 Juli mendatang, di mana manajemen akan memutuskan apakah seluruh rencana ini benar-benar dijalankan. Agendanya tidak ringan: penutupan pabrik, pemangkasan belanja investasi, pengurangan biaya administratif, hingga perombakan struktur organisasi grup secara menyeluruh. Satu opsi lain yang tengah dipertimbangkan adalah memisahkan merek utama VW dari divisi komponen kendaraan. Langkah itu, kalau jadi dieksekusi, akan mengubah wajah bisnis Grup VW secara fundamental.
Para pekerja tidak tinggal diam. Gelombang protes sudah bergulir, dengan karyawan menilai rencana ini terlalu merugikan mereka. Bisa jadi tekanan dari serikat pekerja inilah yang membuat manajemen masih menahan diri sebelum rapat Juli.
Pertanyaannya: apa yang membawa VW sampai ke titik ini? Persaingan dari produsen mobil China disebut sebagai salah satu faktor terbesar. Merek-merek asal Negeri Tirai Bambu itu masuk dengan harga agresif dan lini kendaraan listrik yang terus berkembang, menggerus pangsa pasar VW di Eropa dan sejumlah kawasan lain. VW memang masih masuk jajaran produsen terlaris global, tapi posisi puncak sudah lama direbut Toyota, dan sejak saat itu tren penjualannya terus tergerus.
Di Indonesia, ceritanya agak berbeda. VW masih berjualan normal, dengan ID.Buzz menjadi produk paling diminati dan bahkan sudah diproduksi secara lokal untuk memenuhi permintaan. Kompetisi dari merek China yang membanjiri pasar domestik pun diklaim belum terlalu mengganggu operasional mereka di sini. Walau begitu, kondisi induk usaha yang sedang bergolak seperti ini bukan kabar yang bisa diabaikan begitu saja oleh agen pemegang merek.
Apakah 9 Juli akan menjadi hari gelap bagi ribuan pekerja otomotif Jerman? Semua tergantung seberapa berani, atau seberapa terpaksa, dewan VW mengeksekusi rencana yang sudah lama mereka timbang-timbang ini.