RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kuartal II Masih Hijau: SRBI Selamatkan Neraca Aru...

Ekonomi

Kuartal II Masih Hijau: SRBI Selamatkan Neraca Arus Modal Asing

Meski pasar saham masih mengalami tekanan outflow Rp23,5 triliun, arus modal asing ke Indonesia secara keseluruhan di kuartal II-2026 masih mencatatkan net inflow Rp60,9 triliun hingga awal Juni.

Purbaya Sebut Arus Modal Asing di SRBI dan Bond Masih Baik - Market

Kuartal pertama 2026 memang babak belur. SBN dan saham kompak mencatat outflow, hanya SRBI yang masih bisa dipegang. Memasuki kuartal kedua, gambarannya mulai bergeser, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan angkanya langsung di konferensi pers APBN Kita, Jumat (5/6/2026).

Akumulatif hingga 3 Juni 2026, total net inflow modal asing pada kuartal II menembus Rp60,9 triliun. Angka itu ditopang dua instrumen utama: SBN mencatat inflow Rp14,4 triliun, sementara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia jadi bintangnya dengan inflow Rp70,1 triliun. Ada memang outflow di sisi SBN sebesar Rp10,8 triliun, tapi secara nett obligasi pemerintah sudah kembali ke zona hijau setelah terpuruk di kuartal sebelumnya.

Satu segmen yang belum pulih: pasar saham. Outflow akumulatif menyentuh Rp23,5 triliun hingga awal Juni. Investor asing di ekuitas memang sudah lama rewel terhadap pasar berkembang, dan Indonesia bukan satu-satunya yang kena tampar.

"Pada kuartal pertama kita lihat SBN dan saham turun terus, yang naik hanya SRBI. Tetapi pada kuartal kedua kita lihat SBN mulai naik, saham masih turun, dan SRBI naik lebih besar," jelas Purbaya dalam pemaparannya. Pernyataan itu sekaligus menjadi pembelaan implisit terhadap narasi pesimistis yang belakangan ramai beredar.

Purbaya tidak menutupi frustrasinya terhadap arus pemberitaan negatif. Ia menegaskan data yang ada membuktikan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga. "Yang penting kita lihat net-nya. Kuartal kedua masih positif. Ini menjawab keraguan banyak orang," tegasnya. "Kalau kita lihat datanya, optimismenya masih ada ke ekonomi Indonesia. Jadi jangan termakan satu pemberitaan saja. Kelihatan sekali bahwa di SRBI maupun bond masih signifikan inflow-nya."

Dominasi SRBI dalam menarik modal asing bukan fenomena baru, tapi angkanya kali ini cukup bikin mata terbelalak. Rp70,1 triliun. Melampaui total net inflow Rp60,9 triliun itu sendiri, artinya tanpa SRBI, neraca portofolio sudah jebol. Instrumen bank sentral ini memang dirancang dengan yield kompetitif dan likuiditas tinggi, pilihan pertama investor asing yang ingin eksposur ke aset rupiah tanpa masuk ke ekuitas yang lebih bergejolak.

Pertanyaannya, sampai kapan saham bisa diabaikan? Selama outflow ekuitas terus berlanjut, optimisme di level makro akan sulit turun ke investor ritel yang sudah lama nyangkut di berbagai pos.