RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Krisis Energi Asia: Ketika BBM Jadi Barang Mewah d...

Ekonomi

Krisis Energi Asia: Ketika BBM Jadi Barang Mewah di Negara Tetangga

Dari Islamabad hingga Kuala Lumpur, negara-negara Asia kini berhadapan dengan tekanan subsidi energi yang semakin berat. Malaysia sudah memangkas jatah BBM subsidinya, dan Pakistan merasakannya di jalanan.

Senin pagi, 6 April 2026. Islamabad cerah, tapi Raja Naeem Sarver, 40 tahun, tidak punya banyak alasan untuk menikmatinya.

Pria itu hendak naik bus ke tempat kerja. Rutinitas biasa. Yang tidak biasa: bus jauh lebih sesak dari minggu-minggu sebelumnya. Bukan sekadar penuh, tapi sesak sampai ruang berdiri pun jadi barang langka.

Ini bukan soal transportasi publik yang buruk. Ini soal apa yang terjadi ketika harga BBM mulai menggigit.

Di Malaysia, tekanannya datang dari arah lain tapi ujungnya sama persis. Pemerintah Kuala Lumpur memangkas jatah BBM subsidi per orang dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan. Sepertiga kuota dicukur begitu saja. Stasiun Petronas di Pahang dan kota-kota lain kini jadi tempat di mana kebijakan fiskal terasa paling nyata bagi warga biasa.

Masif.

Kebijakan pembatasan semacam ini agaknya akan makin jamak di kawasan seiring tekanan fiskal yang menghimpit pemerintah-pemerintah Asia. Subsidi energi yang selama ini menyangga daya beli masyarakat kelas menengah bawah kian sulit dipertahankan. Volatilitas harga minyak global, entah kebetulan atau tidak, berbarengan dengan eskalasi ketegangan Iran-Israel yang belum reda. Dua tekanan sekaligus.

Pertanyaannya bukan lagi apakah subsidi harus dikurangi. Pertanyaannya: siapa yang paling kena tampar ketika itu terjadi?

Jawaban sementaranya sudah terlihat di halte bus Islamabad. Mereka yang tidak punya kendaraan pribadi, yang bergantung pada angkutan umum bersubsidi, yang setiap rupiahnya sudah diperhitungkan sampai sen terakhir. Ketika BBM naik, ongkos angkutan ikut terkerek, dan bus pun tiba-tiba sesak bukan karena populasi bertambah, tapi karena orang-orang memilih tidak membawa kendaraan sendiri.

Malaysia dan Pakistan bukan dua kasus yang berdiri sendiri. Pola regional sedang terbentuk pelan-pelan, satu kebijakan subsidi pada satu waktu.

Buat investor yang melirik sektor energi dan konsumer di Asia Tenggara maupun Asia Selatan, sinyal ini patut dicermati. Tekanan pada daya beli masyarakat berpenghasilan rendah biasanya tidak berhenti di pompa bensin. Efeknya menjalar, bisa jadi lebih cepat dari yang dikira.