Angka 10,42% itu bukan kebetulan.
Pertumbuhan kredit perbankan nasional secara tahunan hingga akhir Maret 2026 menandai pulihnya fungsi intermediasi. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyebut peningkatan baki debet dan jumlah debitur mencerminkan pembiayaan yang mulai mengalir ke aktivitas ekonomi riil. "Fungsi intermediasi optimal dalam mendukung aktivitas ekonomi serta memperluas akses pembiayaan," ujar Haryo dalam siaran pers, Minggu (19/4).
Yang paling agresif? Segmen korporasi. Kredit korporasi melesat 14,29% secara tahunan, jadi motor utama ekspansi. Kredit konsumer mengikuti di 13,97%, lalu kredit komersial 11,11%. Tiga segmen ini berjalan solid.
Tapi UMKM? Ceritanya lain.
Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah justru terkoreksi 3,57%. Pemerintah membingkainya sebagai "proses konsolidasi menuju struktur pembiayaan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan", sebuah framing yang agaknya lebih nyaman didengar ketimbang mengakui bahwa pembiayaan ke UMKM sedang tertekan. NPL UMKM naik ke 4,55%. Angka yang patut dicermati kalau tren ini berlanjut ke kuartal berikutnya.
Penopang utama segmen mikro tetap KUR. Kredit Usaha Rakyat membukukan pertumbuhan tipis 0,21% dengan baki debet Rp522 triliun per akhir Maret 2026. Kecil, tapi stabil. NPL KUR sendiri cuma 2,16%, jauh di bawah NPL UMKM keseluruhan. Soal penjaminan, cakupannya mencapai 70% dari portofolio KUR dengan rasio klaim 62,8% dan NPG 2,8%. Skema ini, setidaknya menurut Haryo, mampu menjaga kualitas kredit sekaligus mendorong ekspansi pembiayaan.
Rp6,04 triliun. Itu nilai penyaluran KUR di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menjangkau lebih dari 93 ribu debitur meski ketiga wilayah ini masih dalam kondisi pascabencana. Pemerintah menerapkan skema KUR Pascabencana: perpanjangan tenor, grace period, sampai subsidi bunga 0% untuk 2026 dan 3% pada 2027. Bukan main jumlah debiturnya.
Kredit Program Perumahan (KPP) membukukan baki debet Rp15,76 triliun per 31 Maret 2026. Secara agregat, kredit program Pemerintah tumbuh 3,23%.
Pemerintah juga mengarahkan KUR untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan tiga juta rumah. Entah kebetulan atau tidak, dua program prioritas itu memang butuh rantai pembiayaan mikro yang kuat di level paling bawah, persis titik di mana UMKM beroperasi.
Pertanyaannya kini: apakah kontraksi UMKM ini memang sekadar konsolidasi sementara, atau ada tekanan struktural yang lebih dalam, yang belum sepenuhnya terbaca dari angka kuartal pertama?