SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Kospi Ambruk 4% di Rabu Gelap, Buyback Chip Tak Ku...

Finansial

Kospi Ambruk 4% di Rabu Gelap, Buyback Chip Tak Kuasa Menahan Banjir Jual

Indeks Kospi Korea Selatan ambruk 3,99% ke 6.562,72 pada Rabu (2/9/2026), level terendah dalam dua minggu, setelah eskalasi konflik AS-Iran memicu pelarian masif dari aset berisiko dan menghapus reli dua hari sebelumnya yang ditopang buyback saham chip.

Indeks Kospi Korea Selatan Berbalik Arah Setelah Dibuka Anjlok 2,5%

Dua hari reli, satu hari disikat habis.

Kospi Korea Selatan menutup perdagangan Rabu (2/9/2026) dengan penurunan 3,99% ke level 6.562,72, titik terendah sejak 19 Agustus, sekaligus mencatat penurunan harian terbesar dalam dua minggu. Semua gain yang dibangun susah payah sepanjang Senin dan Selasa lenyap dalam satu sesi, setelah AS melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa malam dan Iran membalasnya, memicu kepanikan di seluruh pasar global.

Konteksnya perlu sedikit mundur. Senin (31/8), Kospi sebenarnya membalikkan keadaan secara dramatis: dibuka anjlok 2,58% sebelum akhirnya ditutup naik 0,46% ke 6.820,02. Selasa (1/9) pun indeks masih bertahan, ditutup di 6.835,8 atau naik tipis 0,23%, meski sempat terbuka melemah setelah pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole membuat pasar global bergidik. Dua hari itu, penyelamat Kospi satu: buyback agresif dari Samsung Electronics dan SK Hynix. Samsung memulai program pembelian kembali saham sejak 24 Agustus, sementara SK Hynix memborong sahamnya sendiri senilai 700 miliar won hingga 1 triliun won setiap hari sejak 20 Agustus. Cukup untuk menopang indeks kala investor asing, institusi, dan ritel kompak melepas kepemilikan.

"Ketidakpastian eksternal menekan sentimen investor, tapi pembelian besar dari perusahaan-perusahaan besar menopang indeks," kata Lee Kyung-min, analis dari Daishin Securities, merujuk pada dinamika Senin-Selasa itu.

Rabu, dukungan itu tidak mempan.

Eskalasi konflik AS-Iran yang menjadi paling serius dalam beberapa minggu terakhir langsung menghantam selera risiko pelaku pasar. Aksi jual obligasi global semakin dalam, imbal hasil obligasi pemerintah Korea tenor 10 tahun melonjak 4,2 basis poin ke 4,413%, harga minyak mentah pun melesat. Samsung Electronics rontok 4,02%, SK Hynix dihajar 4,73%, LG Energy Solution amblas 5,31%, Hyundai Motor ambruk 5,62%. Dari 911 saham yang diperdagangkan, 735 memerah. Hanya 139 yang selamat.

Investor asing pada sesi Rabu itu melepas saham senilai 1,9 triliun won atau setara US$1,39 miliar. Jauh lebih besar dibanding aksi jual dua hari sebelumnya: 640 miliar won di Senin, 491,9 miliar won di Selasa. Selama sesi Senin-Selasa, investor korporasi masih sanggup menyerap tekanan jual dengan membukukan pembelian bersih hingga 1,57 triliun won di Senin, melanjutkan tren beli hingga sesi kesembilan berturut-turut. Di Rabu? Bisa jadi bahkan buyback pun tidak berdaya melawan skala kepanikan yang datang.

Data ekspor Korea untuk Agustus yang dirilis Selasa sebenarnya solid, ditopang permintaan chip yang masih kencang, dan sempat memperpanjang napas reli Kospi di sore hari Selasa. Inflasi konsumen Agustus juga masuk lebih rendah dari perkiraan. Agaknya tidak cukup untuk meredam kekhawatiran yang datang dari luar perbatasan.

Won Korea, yang sempat menguat ke level 1.360 per dolar pada Senin untuk pertama kali dalam 13 bulan, kembali tertekan ke kisaran 1.368-1.370 per dolar seiring meningkatnya sentimen risk-off. Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah buyback Samsung dan SK Hynix masih cukup jadi penyangga jika konflik Timur Tengah terus bereskalasi dan The Fed benar-benar menaikkan suku bunga September ini? Kalau data hari-hari ke depan tidak bisa dipercaya memberi kabar baik, pasar agaknya sudah mulai meragukan itu.