Sebanyak 1.061 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) diresmikan serentak oleh Presiden Prabowo Subianto pekan lalu, dengan upacara pemukulan gong di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Bukan sekadar seremonial. Peluncuran massal ini menyentuh langsung struktur ekonomi akar rumput yang selama bertahun-tahun dikuasai jaringan minimarket nasional.
Peresmian berlangsung serentak di sejumlah daerah. Di level kecamatan, aparat kepolisian turut hadir mendampingi, termasuk Kapolsek bersama jajaran Muspika Kecamatan Sanankulon yang mengawal launching KDMP di Desa Sumber. Mobilisasi semacam ini mencerminkan betapa seriusnya pemerintah menggerakkan seluruh elemen untuk mensukseskan program ini.
Tapi serius, atau setengah hati? Koperasi sebagai entitas ekonomi kolektif sudah berkali-kali dicoba dihidupkan kembali lintas rezim, dan berkali-kali stagnan karena masalah yang itu-itu saja: tata kelola lemah, modal cekak, dan ketergantungan pada intervensi negara yang tidak berkelanjutan. Bisa jadi kali ini berbeda. Pasar belum akan percaya sampai ada bukti konkret.
1.061 koperasi yang diresmikan serentak itu baru sepotong kecil dari total desa di Indonesia yang jumlahnya melebihi 75.000. Agaknya pemerintah memilih pendekatan bertahap, meresmikan yang siap lebih dulu, sisanya menyusul. Strategi yang masuk akal di atas kertas, tapi rawan melempem kalau momentum politiknya sudah lewat.
Timingnya, kalau mau jujur, tidak kebetulan. KDMP meluncur saat daya beli masyarakat perdesaan belum sepenuhnya pulih, sementara ekspansi waralaba minimarket nasional kian agresif merambah kecamatan-kecamatan kecil. Nah, kalau dikelola dengan benar, KDMP punya satu keunggulan yang tidak bisa dibeli Alfamart atau Indomaret: akar lokal, kepercayaan komunitas, dan margin yang tidak harus dikirim ke Jakarta.
Pemerintah sepertinya sadar betul soal ini. Pelibatan Muspika dan kepolisian di level kecamatan bukan hanya protokoler. Ini sinyal bahwa negara ingin memastikan program tidak berhenti di pemukulan gong saja. Pengawasan dari bawah, setidaknya di fase awal, kemungkinan lebih ketat dari program koperasi mana pun sebelumnya.
Bagi investor yang mencermati saham ritel atau konsumer, KDMP layak masuk radar. Kalau program ini bergulir konsisten dan menjangkau puluhan ribu desa, dampaknya terhadap jaringan distribusi barang pokok di perdesaan bisa bikin peta persaingan berubah drastis. Angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja.