SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Kongsi TAXI-GOTO Bubar, Pendapatan ASK Tinggal Nam...

Bisnis

Kongsi TAXI-GOTO Bubar, Pendapatan ASK Tinggal Nama

PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) resmi berpisah dari ekosistem GoTo setelah perjanjian pengadaan jasa dengan PT Rekan Anak Bangsa berakhir efektif 2 Juli 2026, kurang dari dua tahun sejak kemitraan itu dimulai.

PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mengumumkan berakhirnya kerja sama dengan PT Rekan Anak Bangsa (RAB), entitas usaha GOTO. (Foto: Ist)

Kerja sama yang sempat disebut babak baru bagi Express Transindo kini resmi tutup buku. PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) mengumumkan bahwa perjanjian pengadaan jasa dengan PT Rekan Anak Bangsa (RAB), entitas di bawah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), berakhir efektif 2 Juli 2026. Kurang dari dua tahun sejak kontrak itu diteken pada November 2024.

Sekretaris Perusahaan TAXI Johannes B.E. Triatmojo membenarkan bahwa perseroan telah menerima surat resmi pengakhiran dari pihak RAB. "Kami telah menerima surat perihal pengakhiran Perjanjian Pengadaan Jasa antara PT Rekan Anak Bangsa dan TAXI. Pengakhiran perjanjian berlaku efektif pada tanggal 2 Juli 2026," tulisnya dalam keterbukaan informasi, Jumat (3/7/2026). Johannes mengakui berakhirnya kontrak ini berpotensi memengaruhi penghasilan perseroan. Perseroan, kata dia, telah mengantisipasi dampak tersebut lewat optimalisasi kontrak lain yang masih berjalan dan penambahan armada dari vendor berbeda.

Implikasinya ke laporan keuangan agaknya tidak bisa dianggap enteng. Sepanjang kuartal I-2026, TAXI membukukan total pendapatan Rp 2,26 miliar, di mana Rp 1,63 miliar bersumber dari sewa kendaraan dan Rp 638,65 juta dari jasa layanan angkutan sewa khusus (ASK). Pendapatan ASK inilah yang secara langsung bertumpu pada skema fixed dan variable fee dari kerja sama dengan RAB. Kontrak bubar, pilar itu ikut amblas.

Rencana awalnya memang ambisius. Saat kongsi ini diluncurkan, manajemen TAXI membidik pengelolaan setidaknya 24 ribu unit armada mobil listrik BYD M6 milik Gojek di Jabodetabek, lengkap dengan pool kendaraan dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Angka yang besar. Kini tinggal angka.

Latar belakang TAXI sendiri membuat situasi ini terasa lebih berat dari yang terlihat di permukaan. Bisnis taksi konvensional perseroan sudah dihajar habis-habisan sejak kemunculan aplikasi transportasi online pada 2015, lalu diperparah pandemi Covid-19 yang memaksa penghentian total operasional armada taksi putih ikoniknya. Yang tersisa hanya layanan bus pariwisata, sebelum kemitraan dengan GOTO membuka celah untuk bangkit lewat segmen EV fleet management. Celah itu kini tertutup.

Saham TAXI terparkir di Rp 13 per lembar pada penutupan Jumat (3/7/2026), tercatat di papan pemantauan khusus full call auction (FCA). Sinyal yang cukup berbicara soal kondisi likuiditas dan fundamental emiten ini. Bagi pemegang saham, pertanyaan yang lebih mendesak bukan soal siapa yang salah dalam perpisahan ini, melainkan kontrak pengganti mana yang bisa menambal lubang pendapatan sebesar itu. Kalau data kuartal I bisa dijadikan patokan, jawabannya tidak sederhana.