SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Komut Pertamina Desak Direksi Turunkan Harga Perta...

Bisnis

Komut Pertamina Desak Direksi Turunkan Harga Pertamax, Ekonom: Jangan Ditunda

Komisaris Utama Pertamina mendorong direksi siapkan penurunan harga BBM nonsubsidi bertahap mulai Juli 2026, seiring harga minyak WTI yang sudah merosot ke kisaran US$71 per barel.

Berkat Intervensi Pemerintah, Harga Pertamax Tidak Sentuh Rp 19.000

Harga Pertamax baru saja naik tajam dua pekan lalu, tapi tekanan untuk membaliknya sudah datang dari dalam Pertamina sendiri.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan secara terbuka mendorong jajaran direksi agar bersiap menurunkan harga BBM nonsubsidi secara bertahap, dengan target awal Juli 2026. Alasannya gamblang: harga minyak mentah dunia sudah mulai melandai, dan konsumen mulai menjerit.

Per perdagangan Jumat (27/6), West Texas Intermediate (WTI) bertengger di US$71,53 per barel, sementara minyak acuan Brent di US$74,83 per barel. Dibanding puncak ketegangan geopolitik beberapa bulan lalu, penurunan ini cukup terasa. "Kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi, manajemen (Pertamina) untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak (mentah) dunia yang sudah mulai turun," kata Iriawan dikutip dari Antara, Jumat (26/6/2026).

Konteksnya perlu diingat. Per 10 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax RON 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan yang langsung terasa di kantong, terutama pengguna kendaraan pribadi kelas menengah yang selama ini setia ke Pertamax karena malas antre Pertalite.

Rp16.250 itu pun sudah hasil intervensi. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengungkapkan modal satu liter Pertamax RON 92 versi Pertamina sesungguhnya mencapai US$1,1 atau sekitar Rp19.000, tapi Kementerian ESDM meminta Pertamina menjual di bawah angka itu. "Sebetulnya untuk harga-harga nonsubsidi pun, ini Pertamina juga tidak dibiarkan menjual full dengan harga ekonomi. Masyarakat harus tahu bahwa sebetulnya untuk barang-barang nonsubsidi pun, pemerintah melakukan intervensi," ujar Bambang, dikutip dari Antara.

Jadi bahkan di harga Rp16.250, Pertamina sudah nombok. Pertanyaannya: seberapa besar ruang turun yang realistis kalau harga crude memang konsisten melemah?

Ekonom Mohammad Faisal tidak basa-basi soal ini. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia itu bilang penurunan sudah seharusnya dieksekusi sekarang, bukan nanti. Dengan WTI sudah di kisaran US$68-71 per barel, ruangnya sudah ada. "Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat itu sudah bisa diturunkan, karena pada dasarnya dia floating," katanya kepada ANTARA. Faisal secara khusus menyoroti dampaknya ke kelas menengah yang dalam beberapa kuartal terakhir terus tergerus daya belinya.

Iriawan sendiri tidak menjanjikan angka pasti. Ada prosedur yang tidak bisa dipotong, katanya, dan formula evaluasi berkala Pertamina memang dirancang agar harga tidak liar naik-turun mengikuti volatilitas harian. "Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses dari bulan yang lalu, dengan harga yang lalu," jelasnya. Soal berapa besaran penurunannya, ia hanya bilang, "insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat."

Kementerian ESDM, di lini lain, memastikan harga BBM bersubsidi seperti Biosolar dan Pertalite tidak berubah. Pasokan LPG nasional juga terjaga di atas 12 hari. Bambang turut menyebut rilis JP Morgan pada Maret 2026 yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua dari 52 negara dalam hal ketahanan energi sebagai cermin bahwa diversifikasi rantai pasok migas mulai berbuah.

Buat investor, yang patut dicermati adalah saham emiten dengan eksposur tinggi ke biaya energi, terutama di sektor logistik, manufaktur, dan transportasi. Kalau penurunan harga BBM nonsubsidi betul-betul terealisasi Juli ini, agaknya ada angin segar di sana. Tapi selama masih di tataran desakan komisaris dan belum ada pengumuman resmi dari Pertamina Patra Niaga, angka-angka itu belum bisa dijadikan pegangan. Pasar, seperti biasa, akan menunggu.