KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Khofifah Turun ke Pasar Klojen, Bawang dan Cabai J...

Ekonomi

Khofifah Turun ke Pasar Klojen, Bawang dan Cabai Jatim Bikin Khawatir

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terjun langsung ke Pasar Klojen Malang dan menemukan harga bawang merah melonjak hingga Rp60 ribu per kilogram, sementara cabai rawit menyentuh Rp120 ribu. Di balik kunjungan ini, ada masalah distribusi yang belum juga tuntas.

Riuh sunyi di rak sembako

Harga bawang merah di Pasar Klojen, Kota Malang, sudah dua kali lipat dari posisi normalnya. Dari kisaran Rp35 ribu-Rp45 ribu per kilogram, kini bertengger di Rp55 ribu-Rp60 ribu. Cabai rawit lebih mengejutkan lagi, menyentuh Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram di pasar yang sama, meski di beberapa lapak lain sekitar Malang masih bisa ditemukan di kisaran Rp80 ribu.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyaksikan sendiri angka-angka itu ketika menyambangi Pasar Klojen pada Jumat (29/5), didampingi Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Bukan kunjungan seremonial biasa. Khofifah menelusuri lapak demi lapak, dari sembako, sayuran, daging ayam, hingga daging sapi, dan berdialog langsung dengan pedagang maupun pembeli.

Soal Minyakita, Khofifah tidak menyembunyikan kekhawatirannya. Selisih antara harga eceran tertinggi dengan harga yang beredar di toko sembako Pasar Klojen ia sebut "cukup tinggi", dan kondisi ini langsung ia tandai sebagai temuan serius. Ia meminta koordinasi lebih intensif antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Pemkot Malang, dan Perum Bulog agar distribusi beras SPHP dan Minyakita tidak tersumbat sebelum sampai ke tangan warga.

"Monitoring langsung seperti ini penting sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat," ujar Khofifah.

Soal beras, Khofifah menegaskan stok SPHP di Jawa Timur sebenarnya cukup tinggi. Masalahnya bukan di gudang, tapi di ujung distribusi. Mayoritas warga Malang memang sudah beralih ke beras premium, tapi beras medium tetap harus tersedia untuk segmen yang membutuhkan. Stok melimpah, kata Khofifah, tidak otomatis berarti harga terkendali kalau jalur distribusinya tidak efisien.

Cabai rawit di satu pasar Rp120 ribu, di pasar lain Rp80 ribu. Selisih Rp40 ribu dalam radius beberapa kilometer. Bukan soal stok semata. Ini cermin dari konektivitas distribusi yang belum merata, dan Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional ternyata bukan berarti kebal dari gejolak harga. Kalau data ini bisa dipercaya, persoalan tata niaga dan rantai pasok jauh lebih dalam dari yang terlihat di permukaan.

"Di sinilah peran pentingnya koordinasi antar daerah. Harga apa yang menjadi penyebab kemungkinan potensi inflasi itu terjadi, nah itu yang bisa dilakukan langkah-langkah mitigatif dan antisipatif bersama sejak dini," tegas Khofifah.

Kabar yang sedikit melegakan: harga telur cenderung turun, dan daging sapi terpantau relatif stabil menjelang Idul Adha. Pola yang tidak biasa. Biasanya menjelang hari besar keagamaan, daging sapi justru jadi komoditas yang paling diincar dan paling rentan melonjak.

Khofifah juga memuji tata kelola Pasar Klojen yang berhasil mengintegrasikan pasar basah, pusat kebutuhan pokok, dan sentra kuliner tradisional dalam satu kawasan yang tertata. Pasar ini masuk daftar referensi Siskaperbapo, sistem informasi pemantauan harga milik Pemprov Jatim. Menurut Khofifah, konsep Klojen layak jadi model inovasi pasar rakyat untuk daerah lain.

Tapi pujian itu tidak menghapus pesan yang lebih berat. Operasi pasar dan pasar murah memang terbukti meredam lonjakan harga jangka pendek. Tidak lebih dari itu. Struktur biaya produksi dan distribusi tidak berubah hanya karena ada intervensi sesaat. Tanpa pembenahan yang lebih struktural, polanya akan terus berulang: harga tertekan saat ada operasi pasar, lalu merangkak naik lagi begitu pasar berjalan normal. Bagi rumah tangga berpendapatan rendah, siklus itu bukan statistik. Itu pengalaman harian.