SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Kevin Warsh Resmi Ketua The Fed, Yield Obligasi 30...

Bisnis

Kevin Warsh Resmi Ketua The Fed, Yield Obligasi 30 Tahun AS Tembus 5%

Senat AS mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve dengan margin suara tersempit dalam sejarah, tepat saat imbal hasil obligasi 30 tahun AS menembus level 5% untuk pertama kalinya sejak era pra-krisis 2008.

Jadi Ketua The Fed, Kevin Warsh ingin kecilkan neraca. Apa artinya?

Margin 54 berbanding 45. Itulah angka yang akan diingat pasar ketika mencatat momen konfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve baru, rekor margin tersempit sepanjang sejarah pemilihan pimpinan bank sentral AS, melampaui rekor sebelumnya milik Janet Yellen yang lolos 56-26 pada 2014.

Waktu konfirmasi Senat itu terasa ironis. Hanya beberapa jam sebelum voting, data inflasi grosir AS April dirilis dan langsung membakar kekhawatiran pasar. Indeks harga produsen melonjak 6% secara tahunan, melampaui seluruh proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg. Inflasi inti, yang mengecualikan pangan dan energi, ikut naik 5,2%, sinyal bahwa lonjakan harga energi akibat perang Iran mulai menjalar ke sektor lain. Warsh langsung disambut realita yang pelik bahkan sebelum ia duduk di kursinya.

Paras pasar obligasi tak kalah suram. Bersamaan dengan proses konfirmasi itu, lelang obligasi 30 tahun AS senilai US$25 miliar menghasilkan yield tertinggi 5,058%. Level 5% untuk tenor 30 tahun terakhir kali terlihat sebelum krisis finansial global 2008, lebih dari 15 tahun silam. Bagi pemerintah AS, ini bukan sekadar angka di layar terminal. Ini biaya pinjaman jangka panjang yang sesungguhnya, dan ia baru saja naik ke titik yang belum pernah kita lihat selama satu setengah dekade.

Kenaikan yield tenor panjang ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap inflasi yang lebih persisten. Investor meminta kompensasi lebih besar karena khawatir daya beli uang mereka tergerus di masa depan. Apakah ini sinyal kebangkitan inflasi struktural atau sekadar euforia sesaat pasca pergantian kepemimpinan The Fed, agaknya terlalu dini untuk dijawab sekarang. Pasar, bagaimanapun, sudah memilih untuk bereaksi lebih dulu.

Efek berantainya terasa di hampir semua kelas aset. Dolar AS cenderung menguat ketika yield obligasinya naik, karena investor asing terdorong masuk ke aset berdenominasi dolar. Emas masuk posisi yang serba salah: di satu kutub tertekan oleh yield tinggi yang jadi pesaing imbal hasil, di kutub lain berpotensi jadi pelindung nilai kalau kekhawatiran inflasi betul-betul menguat. Campur aduk, persis seperti sentimen pasar saat ini.

Kembali ke Warsh. Bukan orang baru di The Fed, ia pernah menjabat sebagai gubernur bank sentral yang sama sebelumnya. Dalam sidang konfirmasi, ia menegaskan kebijakan moneter akan tetap "sangat mandiri" dari tekanan politik. Pernyataan yang terdengar meyakinkan, tapi pasar tahu betul bahwa Presiden Donald Trump berkali-kali secara terbuka menuntut penurunan suku bunga seagresif mungkin. Warsh dipilih bukan tanpa alasan. Pertanyaannya, berapa lama ia bisa menahan tekanan itu?

Soal neraca The Fed yang saat ini mencapai US$6,7 triliun, Warsh menyatakan ingin memperkecil ukurannya secara bertahap. Ia juga berpendapat pemangkasan suku bunga lebih adil ketimbang ekspansi neraca, karena manfaatnya lebih merata bagi masyarakat. Terhadap era Powell, kritiknya tidak ditahan: menurutnya, The Fed gagal fokus menjalankan mandat utama pengendalian inflasi semasa pemerintahan Biden.

Proses konfirmasi Warsh sempat tersandung drama tersendiri. Senator Republik Thom Tillis sempat memblokir nominasi pejabat The Fed sampai Departemen Kehakiman menghentikan penyelidikan pidana terhadap Powell terkait pembengkakan biaya renovasi gedung Federal Reserve. Tillis, Powell, dan sejumlah senator Demokrat kompak menilai investigasi itu bagian dari upaya menekan Powell agar lebih agresif memangkas suku bunga. Hanya satu senator Demokrat yang akhirnya membelot: John Fetterman dari Pennsylvania.

Powell sendiri menyatakan tetap bertahan sebagai anggota dewan gubernur setelah lengser dari kursi ketua, meski dengan "profil rendah." Ancaman investigasi pidana terhadap dirinya, ia nilai, berpotensi mengganggu independensi bank sentral. Cara perlawanannya: tetap hadir.

Bagi investor ritel, pertanyaan praktisnya satu. Dengan yield 30 tahun AS di atas 5%, inflasi yang persisten, dan ketua The Fed baru yang belum teruji di bawah tekanan politik level ini, apakah ini saat yang tepat untuk menambah eksposur ke aset berisiko? Pertanyaan yang, entah kebetulan atau tidak, kini sepenuhnya berada di tangan Warsh untuk dijawab.