Sepanjang Maret 2025 hingga Maret 2026, KB Bank kehilangan 662 karyawan. Dari 2.927 orang, kini tinggal 2.265. Bukan angka kecil.
OJK tidak tinggal diam merespons kabar ini. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan bahwa setiap kebijakan pengurangan tenaga kerja di perbankan wajib dikonsultasikan dulu ke regulator sebelum dieksekusi. Tapi Dian juga tidak ingin situasi ini dibaca terlalu dramatis, ia mengingatkan bahwa bank biasanya sudah mengalokasikan dana kompensasi yang memadai, dan perselisihan antara karyawan dengan manajemen jarang terjadi dalam kondisi semacam ini. "Biasanya kalau di swasta mostly, saya kira juga bank BUMN sama aja. Itu akan ada win-win solution antara pegawai dan bank. Sejauh ini jarang ada dispute ya, apalagi dalam kondisi rasionalisasi," kata Dian di Gedung DPR RI.
Manajemen KB Bank menyebut perampingan ini bagian dari program turnaround, sebuah pivot dari model operasional berbasis tenaga manusia ke infrastruktur teknologi. Buktinya konkret: jumlah ATM melonjak dari 31 unit ke 154 unit hanya dalam setahun. Kantor cabang pembantu (KCP) dipangkas dari 141 menjadi 120 unit, meski kantor cabang utama justru bertambah satu menjadi 29 unit.
Polanya terbaca. KB Bank sedang menarik diri dari distribusi fisik yang mahal, sekaligus mendorong penetrasi digital, termasuk untuk segmen kredit UMKM yang agaknya menjadi salah satu taruhan utama mereka. Dian menyebut bank ini tengah mengadopsi sistem IT baru agar lebih responsif terhadap permintaan kredit dari segmen tersebut.
Dirut KB Bank Kunardy Darma Lie membingkai semua ini sebagai "transformasi berkelanjutan." Optimalisasi tenaga kerja dan penyesuaian jaringan kantor, jelasnya, dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan kebutuhan nasabah, dinamika industri, dan meningkatnya adopsi layanan digital. Frasa yang familiar di hampir semua siaran pers restrukturisasi perbankan. Tapi dalam kasus KB Bank, angka-angkanya keras untuk diabaikan.
Pertanyaannya sederhana: apakah efisiensi ini akan tercermin di laporan laba rugi beberapa kuartal mendatang, atau justru dulu jadi beban jangka pendek lewat biaya pesangon dan restrukturisasi? Pelaku pasar yang menaruh posisi di saham perbankan mid-tier kiranya perlu mulai mencermati KB Bank lebih seksama.