JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kadin: Optimisme Kuartal II Belum Cukup Buka Keran...

Ekonomi

Kadin: Optimisme Kuartal II Belum Cukup Buka Keran Investasi

Survei Kadin Business Pulse kuartal II 2026 memotret dunia usaha yang masih gamang di tengah sinyal-sinyal positif yang mulai muncul, mulai dari tekanan geopolitik yang mereda hingga fundamental makro yang relatif terjaga.

Apa yang Membuat Pengusaha Belum Merealisasi Investasi | tempo.co

Sentimen positif itu ada. Tapi belum cukup untuk membuka dompet.

Survei Kadin Business Pulse kuartal II 2026 memperlihatkan gambaran yang agak paradoks: optimisme mulai tumbuh, tapi realisasi investasi masih tersendat. Dua faktor paling banyak disebut pelaku usaha sebagai rem, eh, maaf, dua faktor yang paling sering jadi alasan penundaan: pelemahan rupiah dan ketidakpastian arah kebijakan fiskal.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut tantangan yang dihadapi dunia usaha sepanjang kuartal ini cukup berlapis. Konflik geopolitik di Timur Tengah, tekanan nilai tukar, kepastian regulasi, daya beli masyarakat, hingga kenaikan biaya energi. Satu variabel saja belum jelas arahnya, keputusan investasi bisa terus ngambang.

Survei ini melibatkan pelaku usaha dari berbagai skala, dari UMKM sampai korporasi besar. Secara rutin diterbitkan Kadin sebagai semacam dashboard kondisi bisnis nasional, sekaligus bahan advokasi ke pemerintah.

Kabar baiknya: tekanan geopolitik global dinilai mulai mereda, dan sentimen investor terhadap Indonesia disebut meningkat. Hanya saja, Anindya mengingatkan bahwa perhatian investor global kini bergeser. Bukan lagi kagum pada besarnya potensi ekonomi Indonesia semata, melainkan lebih fokus pada kemampuan pemerintah merealisasikan kebijakan yang sudah dijanjikan. Klaim yang, jujur saja, masih perlu dibuktikan di lapangan.

Di balik tekanan jangka pendek itu, Anindya tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen pada 2026. "Inflasi juga terjaga dan rasio utang terhadap PDB salah satu yang terbaik di G20," katanya. Fundamental, dengan kata lain, belum jebol.

Soal rupiah dan suku bunga yang masih jadi keluhan, Anindya memilih framing yang menarik. "Ini adalah equilibrium baru. Kita tentu menginginkan rupiah menguat dan suku bunga turun, tetapi kita juga harus melihat kondisi apa adanya dengan kepala dingin. Biasanya setelah satu hingga tiga tahun, ketika kepercayaan kembali, situasi akan berbalik arah," ungkapnya.

Transisi juga jadi kata kunci di survei ini. Indonesia, kata Anindya, sedang bergeser dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia. Setiap transisi semacam itu pasti menyimpan gesekan. "Dalam setiap transisi tentu ada tantangan, sehingga kita harus menyiapkan peningkatan kualitas SDM," tegasnya.

Untuk merespons kondisi ini, Kadin mendorong pelaku usaha mempercepat adopsi teknologi, mendongkrak efisiensi operasional, menjaga lapangan kerja, dan memperluas pasar ekspor lewat perjanjian perdagangan internasional yang sedang dan akan diratifikasi.

Pertanyaannya, sampai kapan "optimisme yang belum terealisasi" ini bisa ditoleransi sebelum berubah jadi keputusasaan?