SABTU, 17 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Kadin: Agility Bukan Pilihan, Itu Syarat Bertahan

Ekonomi

Kadin: Agility Bukan Pilihan, Itu Syarat Bertahan

Ketua Umum Kadin Arsjad Rasjid mengingatkan pelaku usaha untuk mengandalkan kelincahan bisnis dan tidak kehilangan kepercayaan diri, sementara ketidakpastian geopolitik global masih membayangi arus investasi.

Kadin Tegaskan Komitmen Menjadi Jembatan Pemerintah dan Dunia Usaha Hadapi Ketidakpastian Global - Kadin Indonesia

Arsjad Rasjid tidak sedang basa-basi. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu menegaskan bahwa pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan playbook lama, melainkan harus membangun agility sebagai otot utama bisnis mereka, di lanskap global yang bergeser kian cepat.

Pernyataan ini bukan retorika motivasional biasa. Realitasnya, banyak pengusaha masih menahan diri untuk merealisasikan investasi, menunggu kepastian yang agaknya belum juga datang. Sikap wait-and-see yang berlarut bisa jadi rem paling mematikan, justru di saat ekonomi domestik butuh dorongan nyata dari sektor swasta.

Arsjad, yang juga dikenal sebagai founder 5P Global Movement, menempatkan stabilitas geopolitik sebagai variabel yang sering luput dari kalkulasi bisnis sehari-hari. Padahal dampaknya sangat nyata. Konflik antarnegara, menurutnya, tidak berhenti di batas wilayah. Ia merembet ke jalur perdagangan, keputusan investasi lintas batas, hingga rantai pasok global yang kini saling bergantung satu sama lain. Indonesia, sebagai ekonomi terbuka, tidak imun dari getaran itu.

"Peace is needed. Perdamaian sangat diperlukan karena ketika terjadi perang atau konflik, dampaknya akan dirasakan oleh banyak negara, termasuk terhadap pertumbuhan ekonomi dan investasi," tegas Arsjad.

Konteks ini relevan mengingat sejumlah titik panas geopolitik masih jauh dari reda, mulai dari ketegangan di kawasan Eropa Timur hingga rivalitas dagang yang mempengaruhi pola aliran modal global. Bagi investor institusional, ketidakpastian semacam ini kerap diterjemahkan ke dalam risk premium yang lebih tinggi. Holding period memanjang sebelum komitmen investasi benar-benar dijatuhkan. Pertanyaannya, berapa lama pelaku usaha domestik sanggup menunggu?

Forum ini juga menghadirkan dimensi yang tidak lazim dalam diskusi ekonomi: nilai-nilai kemanusiaan sebagai pondasi stabilitas. Mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, hadir sebagai Patron Harmony in Diversity Award, memuji kemampuan Indonesia mengelola keberagaman. Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta ia sebut sebagai simbol yang melampaui sekadar bangunan fisik. Entah kebetulan atau tidak, negara-negara dengan kohesi sosial kuat cenderung menjadi destinasi modal yang lebih tahan banting.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut penyelenggaraan perdana Harmony in Diversity Award bukan sekadar sebagai seremonial. Baginya, ini inisiatif regional yang menegaskan kembali nilai-nilai kemanusiaan sebagai perekat masyarakat Asia Tenggara, kawasan yang kini makin diperhitungkan sebagai pusat gravitasi ekonomi dunia.

Bagi investor dan pelaku usaha, pesan Arsjad sebetulnya sederhana: jangan tunggu kondisi sempurna yang tidak akan pernah ada. Yang bisa dikendalikan adalah kecepatan membaca perubahan dan keberanian mengeksekusi. Portofolio yang terlalu lama parkir di pinggir lapangan, dalam ekonomi yang terus bergerak, justru yang paling merugi.