SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Jelang Iduladha, Harga Pangan di Jawa Barat Kompak...

Ekonomi

Jelang Iduladha, Harga Pangan di Jawa Barat Kompak Bergolak

Dari Bandung hingga Cirebon, lonjakan harga cabai, daging sapi, dan beras terjadi serentak menjelang Iduladha 1447 H. Cabai besar di Bandung bahkan menembus Rp120.000 per kilogram, dua kali lipat dari harga normal.

Cabai besar Rp120.000 per kilogram. Angka itu bukan salah ketik.

Di Pasar Kosambi, Bandung, pedagang seperti Eli Anita (60) sudah merasakan tekanannya sejak sepekan lalu. Harga cabai besar yang sebelumnya Rp60.000 per kg kini melonjak 100 persen. Cabai rawit dan cabai keriting masing-masing ikut naik dari Rp60.000 menjadi Rp90.000 per kg. Bawang merah pun terkerek, dari Rp40.000 ke Rp60.000 per kg.

"Banyak pembeli yang mengeluh harganya terlalu mahal. Mereka pun mengurangi pembelian dari sekilo hanya seperempat kilo saja. Padahal, pasokannya lancar," ungkap Eli. Ironis memang: bukan soal suplai yang macet, tapi daya beli yang lebih dulu ambruk.

Pola serupa terjadi di Kabupaten Cirebon, meski intensitasnya berbeda. Di Pasar Tradisional Sumber dan Pasar Pasalaran, tekanan paling berat justru mendarat pada daging sapi. Kualitas satu dijual Rp155.000 hingga Rp160.000 per kg, naik sekitar Rp3.800 dari pekan sebelumnya. Daging sapi kualitas dua mencatat kenaikan serupa, sekitar Rp3.500 per kg.

Rp155.000 per kg. Buat kelas menengah bawah yang masih ingin meja makan mereka layak di hari raya, angka itu terasa seperti pukulan. Di Bandung, warga seperti Nana (36) sudah menyerah lebih awal. "Untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga, saya membeli daging ayam saja karena lebih murah," tuturnya.

Beras pun tidak ketinggalan drama. Pedagang beras Rahmat Kurnia (62) terpaksa menjual di kisaran Rp15.000 hingga Rp18.000 per kg, jauh melampaui HET pemerintah yang mematok Rp13.500 untuk beras biasa dan Rp14.900 untuk beras premium. Di Cirebon, kenaikannya lebih moderat: beras medium kini berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp14.750 per kg, naik Rp50 hingga Rp100 dari pekan sebelumnya. Tetap saja, efeknya langsung dirasakan rumah tangga berpenghasilan rendah.

"Tak ada lagi beras medium seharga Rp14.000. Pemicu harga beras melonjak dipengaruhi kenaikan harga plastik dan minimnya stok," jelas Rahmat.

Bawang putih di Cirebon ikut menambah tekanan. Komoditas ini dijual Rp37.600 per kg, naik sekitar Rp900 dari pekan sebelumnya, dipicu pasokan yang menyusut dari sentra distribusi ketika permintaan justru sedang memuncak. Gula pasir lokal naik tipis sekitar Rp100 menjadi Rp18.550 per kg, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek relatif stabil dengan kenaikan ringan Rp50 per kg.

Satu hal yang agak di luar dugaan dari Cirebon: cabai rawit merah, cabai merah besar, dan telur ayam ras malah menunjukkan tren koreksi ke bawah setelah pasokan melimpah sejak awal Mei. Kontras tajam dengan kondisi di Bandung yang harga cabainya meledak. Kalau data ini bisa dipercaya, perbedaan itu mencerminkan betapa lokalnya dinamika harga pangan, bahkan dalam jarak yang tidak terlalu jauh sekalipun.

Pemerintah provinsi tidak tinggal diam. Disperindag Jawa Barat menggelar Pasar Murah 2026 di enam kabupaten/kota selama tiga hari, 20 hingga 22 Mei, mencakup Sukabumi, Karawang, Bandung, Kota Bogor, Kota Cirebon, dan Kota Tasikmalaya. Kepala Disperindag Nining Yuliastiani menyebut sedikitnya 6.000 pengunjung hadir di lokasi-lokasi tersebut.

Tiga hari pasar murah untuk tekanan harga yang sudah sepekan berjalan. Bisa jadi ini cukup, bisa jadi tidak.