SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Jeffrey Hendrik Pimpin BEI, Incar 10 Besar Bursa D...

Bisnis

Jeffrey Hendrik Pimpin BEI, Incar 10 Besar Bursa Dunia dari Posisi ke-19

RUPST BEI resmi mengukuhkan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama periode 2026-2030. Manajemen baru membidik kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun dan 35 juta investor hingga akhir masa jabatan.

Sah! Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru Bursa Efek

Dari peringkat ke-19 untuk kapitalisasi pasar dan ke-17 untuk nilai transaksi, Jeffrey Hendrik pasang target membawa Bursa Efek Indonesia masuk jajaran 10 bursa terbesar dunia. Bukan sekadar jargon pelantikan, target itu ia sebut langsung dalam RUPST hari ini, Senin (29/6/2026), sesaat setelah pemegang saham BEI menyetujui pengangkatannya sebagai Direktur Utama periode 2026-2030.

Sebelumnya Jeffrey menjabat Penjabat Sementara Direktur Utama merangkap Direktur Pengembangan BEI. Pengangkatan resminya berlandaskan Surat OJK Nomor SR-10/D.04/2026, bukan keputusan dadakan, melainkan transisi yang sudah lama dipersiapkan.

Enam direktur lain turut dilantik untuk periode yang sama: Saidu Solihin di Penilaian Perusahaan, Irvan Susandy di Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Yulianto Aji Sadono di Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan, Abdul Munim di Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko, Iding Pardi di Pengembangan, serta Umi Kulsum di Keuangan, SDM, dan Umum.

Target manajemen baru? Cukup untuk bikin pelaku pasar menaikkan alis. Kapitalisasi pasar dibidik ke Rp 30.000 triliun pada 2030, hampir tiga kali lipat dari posisi sekarang di kisaran Rp 10.200 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian dipatok Rp 31 triliun, jumlah emiten dikejar menembus 1.100 perusahaan, basis investor melebar ke 35 juta orang, dan rasio market cap terhadap PDB ditekan ke atas 83 persen.

Ambisius. Tapi tidak datang dari ruang hampa.

Tahun buku 2025 jadi fondasi klaim itu. Laba bersih BEI melonjak 59,4 persen ke Rp 1,07 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan, ditopang kenaikan total pendapatan 29,8 persen. RNTH saham melesat ke Rp 18,1 triliun. IHSG mencetak 24 kali all-time high dengan puncak di 8.711 sepanjang tahun lalu. Angka yang tidak main-main.

Empat pilar jadi peta jalan direksi baru: menumbuhkan bisnis transaksi, mengembangkan bisnis non-transaksi, mengerek kuantitas dan kualitas emiten, dan memperluas inklusivitas pasar untuk seluruh segmen investor. "Apa yang ingin kita capai bersama di tahun 2030 kami yakini tidak mudah, tetapi ini adalah hal yang harus kita kejar," kata Jeffrey dalam konferensi pers.

Di luar angka-angka itu, dua agenda struktural menanti. Pertama, demutualisasi. BEI termasuk satu dari segelintir bursa global yang belum menempuh jalur ini, dan UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan sudah mengamanatkannya. "Kami sangat mendukung demutualisasi. Selain amanat undang-undang, langkah ini akan membuat BEI menjadi lebih modern dan lincah," ujar Jeffrey, sambil mengakui aturan turunannya masih dalam proses koordinasi dengan otoritas terkait.

Kedua, posisi Indonesia di indeks global, wilayah yang selama ini jadi ganjalan bagi investor asing. BEI bersama OJK menyerahkan empat proposal reformasi kepada MSCI pada Maret 2026: keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen, data investor yang lebih granular, penyesuaian free float ke 15 persen, dan pengumuman konsentrasi kepemilikan tinggi. Pekan lalu MSCI mengapresiasi langkah itu, menilai reformasi pasar modal Indonesia sudah on the right track. Sinyal yang ditunggu-tunggu.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, saat berkoordinasi dengan perwakilan SRO dan legislatif di Kompleks Parlemen pada Kamis (18/6/2026), menekankan kontinuitas reformasi integritas sebagai ekspektasi utamanya terhadap direksi baru. "Kita kedepankan integritas tata kelola dan juga kita akan terus melakukan perbaikan-perbaikan sehingga akan menjadi pasar modal yang semakin maju, semakin berkembang, dan bisa semakin menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia," tuturnya.

Dengan laba historis di tangan dan tekanan reformasi dari segala arah, Jeffrey Hendrik memulai era baru BEI bukan dari titik nol. Pertanyaannya: apakah empat tahun cukup untuk mendaki tujuh hingga sembilan peringkat di tangga bursa global?