Euforia saham IPO ternyata pendek umurnya. Dua sesi perdagangan terakhir sudah cukup untuk membuktikan itu, dengan PT JEC Eye Hospitals and Clinics Tbk (JECX) sebagai korban paling mencolok.
Sejak listing perdana 7 Juli 2026, JECX sempat menikmati reli yang lumayan brutal: naik 24,8% di hari pertama ke Rp1.560, lalu melonjak lagi 25% sehari berikutnya hingga menyentuh Rp1.950. Setelah itu, tekanan jual datang bertubi-tubi. Pada 9 Juli saham ini terperosok 14,87% ke Rp1.660. Koreksi berlanjut keesokan harinya, Jumat 10 Juli, dengan penurunan 13,86% ke Rp1.430. Hampir 27% nilai pasar JECX menguap hanya dalam dua sesi.
Investor yang masuk di harga IPO Rp1.250 per saham secara teknis masih cuan sekitar 14,4%. Mereka yang ikut-ikutan beli di Rp1.950? Posisinya sedang tidak nyaman.
Data broker summary periode 7-10 Juli menggambarkan cerita yang familiar: distribusi masih berjalan, akumulasi belum cukup kuat untuk mengimbangi. Trimegah Sekuritas Indonesia, yang juga bertindak sebagai underwriter IPO JECX, menjadi pembeli bersih terbesar dengan nilai sekitar Rp95,2 miliar. Di sisi jual, Evergreen Sekuritas Indonesia mendominasi distribusi sekitar Rp37,1 miliar. Investor asing pun sudah berbalik arah: setelah sempat net buy Rp9,75 miliar pada 8 Juli, mereka mencatat net sell Rp5,72 miliar sehari kemudian dan berlanjut Rp2,71 miliar pada 10 Juli.
Order book penutupan Jumat makin memperjelas kondisinya. Antrean beli hanya 26.594 lot, sedangkan antrean jual menumpuk di 136.138 lot. Ketimpangan gamblang. Agaknya pasar belum siap balik badan dalam waktu dekat.
Nasib serupa dialami PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI). Setelah ditutup melonjak 17,02% di hari perdana listing pada 8 Juli, sahamnya langsung diparkir minus 10,55% ke Rp492 pada sesi I tanggal 9 Juli. Volume transaksinya tidak kecil: 304,87 juta saham berpindah tangan dengan nilai Rp148,19 miliar dalam 124.456 kali frekuensi. Bukan sekadar koreksi teknikal biasa.
PT Bach Multi Global Tbk (BACH), listing juga pada 8 Juli dengan kenaikan perdana 24,43%, sempat auto reject atas (ARA) di awal sesi pada 9 Juli sebelum akhirnya tertekan dan hanya parkir naik 10% ke Rp605 di jeda siang.
Tapi tidak semuanya rontok. PT Niramas Utama Tbk (JELI), listing 7 Juli, konsisten ARA hingga sesi I tanggal 9 Juli. PT Prodia Diagnostic Linet Tbk (PRDL) yang baru melantai 9 Juli pun langsung solid menguat 35% ke Rp162. Bisa jadi fundamental yang bicara di sini, atau memang timing dan sentimen pasar tiap emiten memang berbeda-beda.
Satu nama lagi yang layak dicermati: PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dijadwalkan listing perdana pada 10 Juli. Antrean beli saat IPO dilaporkan tembus 1 juta lebih, angka yang cukup langka dan mencerminkan minat ritel yang luar biasa tinggi. Pertanyaannya, apakah antusiasme itu bertahan atau justru menjadi bahan bakar aksi "jual di berita" begitu saham resmi tercatat?
Untuk JECX sendiri, level Rp1.415-Rp1.430 menjadi area krusial secara teknikal. Kalau level itu jebol dengan volume besar, koreksi bisa berlanjut menuju area psikologis Rp1.350-Rp1.380. Rebound ke Rp1.500-Rp1.560 memungkinkan, tapi dengan order book yang masih sarat penjual, momentum itu tidak akan datang gratis. Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati apakah Trimegah sebagai underwriter akan melanjutkan akumulasi atau justru mulai mengendurkan dukungannya, setidaknya itu indikator yang perlu diperhatikan dalam beberapa sesi ke depan.