KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Jakarta Salip Washington D.C., Pramono Tawarkan 37...

Finansial

Jakarta Salip Washington D.C., Pramono Tawarkan 37 Proyek Senilai Rp115 Triliun

Jakarta naik ke peringkat 53 pusat ekonomi global versi Kearney, mengungguli Washington D.C. Gubernur Pramono sekaligus menawarkan 37 proyek investasi senilai Rp115 triliun kepada investor.

Jakarta Invites Private Investment to Help Transform the City by 2030

Sepanjang semester pertama 2026, Jakarta diam-diam mengukir angka yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Ekonomi ibu kota tumbuh 5,52%, melampaui laju nasional, sementara inflasi terjaga di 2,5% dan realisasi investasi menyentuh Rp173,6 triliun atau sekitar US$10,5 miliar.

Di atas fondasi itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo membawa kabar yang agaknya akan membuat banyak orang menaikkan alis. Berdasarkan Kearney Global City Index terbaru, Jakarta kini bertengger di peringkat 53 dari 100 sebagai ibu kota pusat ekonomi, melewati Washington D.C. Sebagai kota global, Jakarta juga naik dari posisi 74 ke 71.

"Jakarta tetap tangguh dan pasar terus memiliki kepercayaan terhadap kota ini," kata Pramono dalam Jakarta Investment Festival 2026, Jumat (28/8/2026). Kalimat yang terdengar seperti klaim optimistis biasa, tapi angka-angkanya memberi bobot yang berbeda.

Peringkat global bukan tujuan akhir. Pramono tahu betul bahwa kepercayaan investor, kalau tidak dikonversi jadi komitmen nyata, hanya akan jadi statistik yang enak diucapkan di podium. Maka di forum yang sama, ia langsung menggelar 37 proyek investasi strategis dengan nilai indikatif Rp115 triliun, setara US$5 miliar.

Porsinya cukup beragam untuk disebut ambisius: hunian dan perhotelan, kawasan mixed-use, pembangunan berorientasi transit atau TOD, fasilitas olahraga dan rekreasi, kawasan industri dan logistik, hingga utilitas dan waterfront. Bukan main.

Yang membedakan tawaran ini dari daftar proyek biasa, menurut Pramono, adalah bagaimana setiap proyek dirancang saling terintegrasi dengan pembangunan kota. Perumahan disambungkan dengan mobilitas, ruang komersial berdampingan dengan ruang publik, infrastruktur menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru. Investor yang masuk bukan sekadar menanam modal di satu titik, tapi ikut membentuk fase berikutnya dari Jakarta. Begitu klaimnya.

Klaim yang masih perlu dibuktikan lewat eksekusi. Tapi bagi pelaku pasar yang selama ini memantau iklim investasi di ibu kota, kombinasi antara data makro yang solid, kenaikan peringkat global, dan pipeline proyek konkret dalam satu forum adalah sinyal yang layak dicermati. Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat "kepercayaan" itu berubah jadi penandatanganan kontrak?