Sepanjang lima tahun terakhir, Malaysia menggelontorkan sekitar Rp 47 triliun ke Jawa Barat. Bukan angka kecil. Modal kepercayaan itulah yang coba dikapitalisasi Pemprov Jabar dalam Selangor International Business Summit (SIBS) ASEAN 2026, yang berlangsung di Hotel Pullman, Kota Bandung, 9-10 Juli 2026.
Enam proyek strategis disodorkan kepada sekitar 150 pengusaha dan investor asal Malaysia: pengembangan Kertajati Aerospace Park, pembangunan LRT Bandung Raya, pengembangan energi terbarukan, kawasan industri, ekonomi kreatif, dan pendidikan vokasi. Keenam sektor ini agaknya dipilih secara kalkulatif, mempertimbangkan rekam jejak Selangor yang selama ini aktif di kedirgantaraan, otomotif, dan teknologi.
Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan hadir langsung membuka forum. Pesannya eksplisit: forum investasi harus menghasilkan tindak lanjut nyata, bukan sekadar deklarasi. "Saya berharap pertemuan dan kegiatan ini tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi harus berkelanjutan dan segera ditindaklanjuti, baik oleh para pelaku usaha di Jawa Barat maupun dari Selangor," kata Erwan. Peringatan yang relevan, mengingat forum-forum semacam ini kerap lebih ramai di sisi seremonial ketimbang eksekusi.
Erwan menguraikan lima strategi yang jadi tulang punggung komitmen Jabar kepada investor: kepastian hukum dengan regulasi bersih dari KKN, integrasi UMKM dalam rantai pasok industri, percepatan infrastruktur kawasan industri, penyiapan tenaga kerja kompeten lewat sinergi pendidikan-industri termasuk platform digital Nyari Gawe, serta penguatan insentif dan pelayanan investasi yang responsif.
Kepala DPMPTSP Jawa Barat Dedi Taufik menilai proyek-proyek yang dipromosikan punya prospek pertumbuhan tinggi dan siap dikembangkan bersama mitra internasional. Klaim yang masuk akal di atas kertas, tapi butuh timeline dan progres konkret untuk membuktikannya.
Bandung sendiri bukan tuan rumah biasa kali ini. Kota ini menjadi lokasi pertama penyelenggaraan SIBS di luar Kuala Lumpur, sinyal simbolis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Menteri Besar Selangor Dato Seri Amirudin Shari, yang turut hadir, mengapresiasi antusiasme Jabar. "Insyaallah, ke depan kita dapat mengeksekusi lebih banyak peluang kerja sama di bidang bisnis, perdagangan, dan sektor lainnya," ujar Amirudin.
Data bilateral memang mendukung optimisme itu. Malaysia masuk dalam 10 besar tujuan ekspor Jabar, dengan surplus perdagangan mencapai US$ 1,1 miliar. Di sektor pariwisata, 12,5% wisatawan mancanegara yang masuk ke Jabar berasal dari Malaysia. Hubungan dua pihak ini sudah cukup dalam, bukan dimulai dari nol.
Pertanyaannya kini sederhana: dari 150 investor yang hadir dan mengikuti sesi business matching, berapa yang benar-benar pulang dengan term sheet di tangan?