Tujuh. Itu angka IPO di Bursa Efek Indonesia per awal Oktober 2026, dari target resmi 50 emiten baru yang dipatok di awal tahun. Realisasinya baru 14 persen dari target, dengan total dana terhimpun sekitar Rp2,16 triliun atau setara US$120,9 juta.
Sebagai pembanding, per akhir September 2025 sudah ada 23 perusahaan yang melantai dengan penggalangan dana US$842,3 juta. Jumlah IPO anjlok hampir 70 persen dalam setahun, dana yang masuk amblas 85,6 persen. Rata-rata nilai per IPO pun menyusut dari US$36,6 juta menjadi US$17,3 juta. Bukan tren yang menyenangkan.
Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, tegas menyebut target 50 IPO tahun ini sudah tidak realistis. Pangkal masalahnya sederhana: pasar sedang bearish parah, investor menahan diri, dan valuasi yang ditawarkan jauh dari harapan emiten. "Pendanaan akhirnya lebih banyak beralih ke bank loan, obligasi, private equity/strategic investor, atau menunggu kondisi pasar membaik," ungkap Budi kepada Kontan.
Kondisi itu diperparah seleksi BEI yang kian galak. Tingkat penolakan terhadap calon emiten kini mencapai sekitar 60 persen, naik drastis dari kisaran 20-30 persen sebelumnya. Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengakui hal tersebut bukan tanpa kesengajaan. Bursa memang memperketat saringan, semata demi mendongkrak kualitas emiten yang masuk. "Dari sekitar 20%-30% menjadi sekitar 60%. Jadi dua kali lipat perusahaan-perusahaan yang mengajukan untuk IPO itu kami tolak, semata-mata kami ingin meningkatkan kualitas dari emiten-emiten kami," katanya.
Ada lagi kebijakan free float baru yang bikin sejumlah calon emiten berpikir dua kali. BEI kini mewajibkan minimum free float berbasis tiering kapitalisasi pasar: 15 persen, 20 persen, dan 25 persen dari saham yang dicatatkan. Budi menilai ketentuan ini terlalu memberatkan saat pasar sedang lemas. Bagi emiten big caps, menurutnya, cukup 7,5-10 persen saja. "Baru beri waktu tiga tahun atau lebih untuk free float menuju 10%-15%," katanya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata sependapat. Ketika valuasi pasar tidak menarik, perusahaan lebih rasional kalau memilih menunggu ketimbang melepas saham pada harga yang dianggap terlalu rendah.
Bandingkan dengan sesama negara ASEAN dan Asia yang bergerak ke arah berlawanan. Malaysia membukukan kenaikan nilai IPO 39,3 persen menjadi US$1,49 miliar. China daratan diperkirakan mencatat lonjakan 175 persen, dengan nilai menembus US$31,73 miliar. Hong Kong malah menghimpun US$49,43 miliar, naik lebih dari 100 persen. India, meski jumlah transaksinya berkurang dari 268 menjadi 220, dananya justru naik 11,3 persen menjadi US$12,5 miliar. Indonesia terjun bebas.
Satu perbandingan yang agak pedih: dana IPO dari CXMT, satu perusahaan China, setara sekitar 82 kali total dana tujuh IPO Indonesia sepanjang tahun ini. Tidak perlu dikomentari panjang.
Meski begitu, ada sisi lain yang patut dilihat lebih jernih. Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, mengingatkan bahwa sepinya IPO bukan berarti pasar modal Indonesia sedang sekarat. "Praktis, lebih baik jumlah IPO lebih sedikit tetapi diisi oleh perusahaan dengan fundamental kuat, valuasi wajar, tata kelola yang baik dan prospek pertumbuhan jelas, dibandingkan mengejar puluhan IPO tetapi kualitas emitennya belum cukup baik," tegasnya. Beberapa tahun sebelumnya, tidak sedikit saham IPO yang langsung rontok bahkan masih nyangkut jauh di bawah harga penawaran perdananya sampai hari ini. Seleksi ketat, dalam jangka panjang, agaknya lebih bermanfaat ketimbang mengejar angka 50 dengan cara melonggarkan standar.
Per 9 Oktober 2026, masih ada sembilan perusahaan dalam pipeline IPO BEI: dua beraset kecil, empat menengah, tiga besar, tersebar di sektor energi, kesehatan, keuangan, material dasar, dan industri. Apakah itu cukup untuk mengubah gambaran akhir tahun? Harry Su, Managing Director Samuel Sekuritas, pesimistis. Kelesuan ini, katanya, berpotensi berlanjut selama kepercayaan investor belum pulih.
Bagi investor ritel, satu saran konsisten dari para analis: jangan beli IPO hanya karena euforia hari pertama. Ekky bilang, menunggu beberapa periode laporan keuangan setelah pencatatan bisa jadi pilihan lebih bijak untuk melihat apakah kinerja perusahaan benar-benar sesuai prospektus. Pasar yang selektif bisa jadi peluang, tapi hanya kalau kamu juga ikut selektif.