Dua tahun lalu, minta HP tahan air di bawah Rp2 juta artinya puas dengan IP54, alias sekadar tahan cipratan. Sekarang? Pemain seperti Realme, vivo, OPPO, hingga TECNO sudah berani menyematkan IP68, IP69, bahkan sertifikasi MIL-STD-810H di kelas harga yang sama sekali tidak premium. Ini bukan diskon. Ini pergeseran paradigma.
Fenomena ini bukan soal perang spesifikasi di atas kertas. Ada kebutuhan nyata yang mendorong tren ini: para pekerja lapangan, kurir logistik, dan pengemudi ojek online yang selama ini harus memilih antara ponsel kuat atau ponsel terjangkau. Kini, dikotomi itu mulai runtuh.
Dari sisi ketahanan air, vivo Y21D mungkin yang paling agresif. Ponsel ini mengantongi tiga sertifikasi sekaligus, IP68, IP69, dan IP69+, yang artinya sanggup menahan semprotan air bertekanan tinggi bersuhu panas dari segala sudut. Baterai 6.500 mAh-nya jelas ditujukan untuk pengguna yang sering jauh dari stop kontak. Chipset UNISOC T7225-nya memang bukan untuk nge-game, tetapi bagi pekerja lapangan yang butuh navigasi dan komunikasi seharian, efisiensi daya jauh lebih relevan daripada benchmark grafis.
Realme C75x bermain di ceruk yang sedikit berbeda. Selain triple certification IP66, IP68, dan IP69, Realme menyematkan fitur yang agaknya terdengar gimmick tapi ternyata sangat praktikal: mode Underwater Photography. Saat terendam air, layar sentuh kehilangan responsivitas, dan fitur ini secara otomatis mengalihkan kontrol kamera ke tombol fisik seperti tombol volume. Ada juga SonicWave Water Ejection, teknologi yang mengeluarkan sisa air dari speaker lewat getaran frekuensi tertentu. Detail kecil yang sering dilewatkan jurnalis gadget, tapi pengguna yang pernah kecewa dengan speaker serak setelah kehujanan pasti langsung paham nilainya.
OPPO A5 Pro melangkah lebih jauh ke arah fotografi bawah air dengan bumbu AI: ada AI Reflection Remover untuk menghilangkan pantulan cahaya di permukaan air, dan AI Eraser 2.0 untuk membersihkan objek pengganggu di latar belakang. Fitur-fitur ini lebih dari sekadar pelengkap. Mereka mencerminkan posisi OPPO yang ingin menjual estetika, bukan hanya ketangguhan.
Untuk yang mau lebih serius soal fotografi air, TECNO Camon 40 Pro 5G masuk dengan sensor 50 MP plus Optical Image Stabilization, krusial saat merekam video di bawah air yang cenderung bergerak. Layar AMOLED 144 Hz dan chipset Dimensity 7300 Ultimate membuat perangkat ini juga kompetitif untuk gaming. Harganya memang sedikit lebih tinggi dari yang lain di segmen ini.
Di ujung bawah spektrum harga, OPPO A3X hadir di kisaran Rp1,5 juta dengan sertifikasi MIL-STD-810H, standar yang lazim dipakai peralatan militer untuk ketahanan benturan dan perubahan suhu ekstrem. Snapdragon 6s Gen 1-nya jauh lebih kencang dari yang biasa ditemukan di kelas harga ini, dan fast charging 45W-nya memangkas waktu tunggu dengan cukup drastis. Baterai 5.100 mAh-nya memang kalah besar dari kompetitor, tetapi kombinasi chipset efisien dan pengisian cepat menutup celah itu cukup rapi.
Perlu jujur soal trade-off-nya. Ketika produsen mengalokasikan biaya produksi untuk seal karet kedap air, lisensi IP68, dan bodi bertulang, sektor lain kena imbasnya. Bobot dan ketebalan membengkak, kamera low-light tidak akan bersaing dengan mid-range konvensional, dan layar yang tersedia umumnya IPS LCD. Bagi pengguna yang menghabiskan hari di kantor ber-AC, membeli ponsel dengan triple certification ini ibarat beli SUV untuk commute di tol. Fungsional, tapi agak berlebihan.
Satu hal yang patut dicermati, dan kalau data lapangan bisa dipercaya, memang kerap terbukti: meski sertifikasi IP68 dan IP69 menjamin ketahanan terhadap rendaman di kedalaman tertentu, untuk aktivitas ekstrem seperti snorkeling atau menyelam lebih dari beberapa menit, waterproof case tambahan tetap sangat disarankan. Sertifikasi laboratorium dan kondisi lapangan nyata bisa jadi dua hal yang berbeda.
Bagi pekerja lapangan, kurir, atau siapapun yang rutinitas hariannya dekat dengan debu, hujan, dan risiko jatuh, jajaran ponsel ini bukan sekadar pilihan. Ini investasi yang kalkulasinya masuk akal. Biaya perbaikan layar retak atau kerusakan akibat hujan kerap melampaui selisih harga antara ponsel biasa dan ponsel tangguh. Pasar rupanya sudah menghitung itu lebih dahulu.