SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Ioniq 5 Aa Juju Viral: Aki Soak, SPV Ngegas, dan B...

Bisnis

Ioniq 5 Aa Juju Viral: Aki Soak, SPV Ngegas, dan Blunder Aftersales Hyundai

Video keluhan influencer Aa Juju soal Hyundai Ioniq 5 yang mogok usai parkir paralel meledak di media sosial, memantik krisis reputasi berlapis bagi Hyundai Indonesia: dari masalah teknis aki hingga respons SPV diler yang justru memperkeruh suasana.

Kronologi Masalah Hyundai Ioniq 5 Aa Juju dan Respon Hyundai Indonesia

Video itu sudah ditonton jutaan kali, dan setiap detiknya terasa seperti alarm yang berbunyi keras di kantor pusat Hyundai Motors Indonesia. Aa Juju, influencer sekaligus food vlogger dengan akun Instagram @makanlurrrr, membongkar habis pengalaman pahitnya sebagai pemilik Hyundai Ioniq 5 yang dibeli secara tunai.

Bukan sekadar soal mobil bermasalah. Ini soal janji yang dilanggar, aftersales yang mengecewakan, dan respons lapangan yang justru menambah bensin ke api.

Ceritanya berawal dari satu kebutuhan spesifik: parkir paralel. Sebelum transaksi terjadi, Aa Juju mengaku sudah menyampaikan kebutuhan ini kepada tenaga penjual Hyundai. Jawabannya positif, bahkan diklaim sudah pernah diuji coba. Realitasnya berbeda jauh.

Setelah beberapa kali diparkir paralel, Ioniq 5 itu mati total. Aki habis. Teknisi yang dipanggil ke rumah malah bilang mobil ini tidak disarankan untuk parkir paralel. "Mobil gue langsung ganti aki karena akinya tuh habis katanya. Jadi tuh mobil ini tuh nggak disaranin buat parkir paralel, gila nggak lu?" ungkap Aa Juju dalam videonya.

Secara teknis, ada penjelasannya. Founder EVSafe Indonesia Mahaendra Gofar menerangkan bahwa mobil listrik dengan sistem shift by wire memang tidak ideal untuk parkir paralel jangka panjang. Saat transmisi di posisi netral dan rem parkir dilepas, komponen kelistrikan termasuk electronic shifter tetap aktif dan menguras aki 12V, bukan baterai lithium utama penggerak mobil. "Untuk parkir jangka waktu pendek seharusnya tidak masalah. Tapi kalau semalaman atau bahkan berhari-hari, ini yang bisa bermasalah, karena akinya bisa soak," jelas Gofar.

Ditambah lagi, teknisi menyebut fitur BlueLink di Ioniq 5 ikut memperparah kondisi. Saat mobil berpindah posisi dalam mode parkir paralel, BlueLink mengirim data ke server dan komponen kelistrikan lain tetap menyala. Kombinasi itulah, agaknya, yang membuat aki kelelahan lebih cepat dari perkiraan.

Soal ini sebenarnya bukan rahasia di kalangan pengguna EV global. Gofar bahkan menyebut di banyak negara, parkir tanpa rem dalam posisi netral bisa kena tilang karena alasan keselamatan. "Ini adalah penyalahgunaan fungsi darurat sebetulnya," tegasnya. Tapi masalahnya bukan pada regulasi luar negeri. Masalahnya ada pada sales yang menjanjikan sesuatu yang harusnya ia pahami lebih dalam sebelum bicara.

Belum tuntas soal aki, Aa Juju juga menghadapi kendala fast charging yang tidak berfungsi dan head unit yang bermasalah keesokan harinya. Lebih menyebalkan lagi, solusi akhirnya ia temukan sendiri lewat internet dan bantuan AI, bukan dari teknisi Hyundai. "Ini mobil bikin gue sampai berobat ke psikolog karena bikin gue stres," katanya.

Lapisan krisis kedua datang dari arah berbeda: seorang Supervisor (SPV) diler Hyundai yang responsnya di media sosial justru viral karena dinilai emosional dan jauh dari profesional. Thread-nya menyebar di Threads, memantik kritik pedas dari sesama pelaku industri otomotif. Komentar mengalir deras. Seorang akun sales otomotif menulis, "Miss dalam pelayanan bisa Viral apa lagi yang beli sosok Influencer, akui kesalahan dan meminta maaflah." Warganet lain lebih blak-blakan: "songong bgt spv nyaaaa, ngegas, pake gesture tangan yang memperlihatkan kalau dia lagi emosi."

Predikat SPV of the Month yang disebut-sebut dalam thread viral itu terasa ironis. Kalau tolok ukurnya cuma angka penjualan, tanpa memperhitungkan customer satisfaction atau kemampuan mengelola konflik, wajar hasilnya seperti ini. Di era digital, satu video influencer bisa lebih mematikan dari seribu iklan. Reputasi brand tidak hanya dibangun di showroom, tapi juga di kolom komentar.

Hyundai Motors Indonesia akhirnya angkat bicara. Head of Brand Interactive HMID Rouli Sijabat menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. "Atas nama Hyundai Indonesia, kami menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan dan situasi yang dialami oleh pelanggan kami, baik terkait pengalaman penggunaan produk maupun layanan dari tim sales & aftersales kami," ujar Rouli, Kamis (20/8/2026). "Kami telah menerima masukan tersebut dan saat ini tengah melakukan penanganan serta penelusuran secara menyeluruh untuk memastikan langkah penyelesaian terbaik bagi pelanggan," lanjutnya.

Permintaan maaf itu perlu. Tapi yang lebih dibutuhkan konsumen sekarang adalah bukti, bukan pernyataan. Berapa banyak pemilik Ioniq 5 lain yang menghadapi masalah serupa tanpa sempat viral?