RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Kesenjangan G...

Ekonomi

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Kesenjangan Gizi Ikut Menganga

Inflasi September 2026 menyentuh 3,28%, mendekati batas atas target BI. Di balik angka itu tersimpan persoalan yang lebih dalam: kenaikan harga pangan hewani tidak dirasakan sama oleh semua kalangan.

Inflasi September 2026 Tembus 3,28%, Ini Prospek Saham Konsumer & Rekomendasi Analis

Angka 3,28 persen untuk inflasi September 2026 mungkin terlihat kecil. Tapi posisinya yang hanya selangkah dari batas atas sasaran Bank Indonesia di level 3,5 persen membuat angka ini layak mendapat perhatian lebih dari sekadar statistik bulanan.

Dibanding Agustus 2026 yang tercatat 3,19 persen, kenaikannya tidak dramatis. Arahnya jelas, dan yang mendorong adalah kombinasi yang tidak menguntungkan: beras, daging ayam ras, dan telur ayam ras kompak naik dalam waktu bersamaan. Mendagri Tito Karnavian sudah menyatakan kewaspadaannya terhadap tren ini.

Masalahnya bukan sekadar inflasi di atas kertas. Ketika harga pangan pokok naik tanpa diikuti kenaikan pendapatan, yang pertama kali terpukul adalah daya beli kelompok terbawah. Dampaknya bisa lebih dalam dari sekadar kantong tipis.

Data BPS dari publikasi "Konsumsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Provinsi Maret 2025" memperlihatkan sesuatu yang cukup mencengangkan. Kelompok 20 persen penduduk dengan pengeluaran terendah hanya mengonsumsi 2,33 gram protein dari daging per kapita per hari. Kelompok 20 persen teratas mencapai 8,64 gram. Hampir 3,7 kali lipat, untuk komoditas yang harga per kilogramnya sama di pasar yang sama.

Secara total protein, kesenjangannya tidak setajam itu. Kelompok bawah mengonsumsi 47,20 gram per hari, kelompok atas 80,10 gram, selisih sekitar 1,7 kali lipat. Jadi yang benar-benar timpang bukan jumlah proteinnya, melainkan sumbernya. Kelompok bawah bertumpu pada beras dan pangan nabati. Kelompok atas punya akses lebih luas ke protein hewani yang secara nutrisi jauh lebih kaya.

Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi pangan hewani nasional pada 2025 menyentuh 133,37 gram per kapita per hari, melampaui target pemerintah 129,11 gram. Angka yang terlihat menggembirakan. Rata-rata nasional, sayangnya, punya kelemahan bawaan: ia menyembunyikan siapa yang sebetulnya menikmati peningkatan itu. Kalau data ini bisa dipercaya begitu saja, kita mungkin keburu puas sebelum waktunya.

Ada konsep lama dari ekonom Merrill K. Bennett yang relevan di sini. Bennett's Law menyebut bahwa ketika pendapatan meningkat, ketergantungan pada makanan pokok berbasis pati cenderung surut dan konsumsi pangan hewani ikut naik. Pola itu terbaca gamblang di data BPS tadi. Konsumsi protein dari padi-padian tidak banyak bergerak antarkelompok, tapi konsumsi dari daging melonjak tajam seiring kemampuan belanja.

Harga satu kilogram daging ayam memang sama untuk semua orang di pasar yang sama. Bebannya, jelas tidak. Bagi keluarga berpenghasilan tinggi, membeli daging ayam bukan keputusan yang perlu dipikirkan panjang. Bagi keluarga dengan pendapatan pas-pasan, uang yang sama harus bersaing dengan sewa, transportasi, dan biaya sekolah anak. Harganya sama. Bebannya berbeda.

Agaknya di sinilah inflasi pangan perlu dibaca lebih hati-hati. Harga yang stabil di pasar belum tentu berarti pangan itu terjangkau, kalau penghasilan riil masyarakat tidak ikut bergerak.

Ada pula sisi rantai pasok yang kerap luput dari diskusi. Harga pangan hewani terbentuk dari panjangnya mata rantai biaya: pakan ternak, bibit, energi, transportasi, distribusi. Menekan harga di tingkat konsumen tanpa memperbaiki efisiensi produksi hanya memindahkan beban ke peternak. Ibarat memerah jeruk sambil melupakan pohonnya, solusi satu sisi tidak pernah tahan lama.

Bagi investor yang mencermati saham-saham konsumer, inflasi yang mendekati batas atas BI membuka dua narasi sekaligus. Kenaikan harga bisa mendongkrak revenue emiten pangan. Tapi kalau daya beli kelompok menengah bawah terus tergerus, volume penjualan produk konsumer massal bisa amblas lebih cepat dari yang diantisipasi. Pertanyaannya, mana yang akan dominan? Itu yang perlu dicermati dari laporan keuangan kuartal ketiga yang mulai masuk beberapa pekan ke depan.