BPS dijadwalkan merilis angka inflasi Mei 2026 hari ini, dan hampir semua ekonom yang ditanya sepakat: angkanya bakal melompat dari bulan sebelumnya. Konsensus Bloomberg yang melibatkan 14 analis menghasilkan median proyeksi 2,94% secara tahunan, naik dari realisasi April yang hanya 2,42% year-on-year.
Rentang proyeksi individual cukup lebar. Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman mematok angka paling agresif di 3,17% yoy, sementara Kepala Ekonom BCA David Sumual memproyeksikan 2,93% yoy. Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang berada di antara keduanya dengan estimasi sekitar 3,05% yoy. Beda angka, tapi narasinya sama.
Tiga pemicu utama muncul berulang di hampir semua proyeksi. Pertama, harga pangan yang berbalik naik setelah sempat tertekan pada periode pasca-Lebaran. Bawang merah, beras, minyak goreng, cabai, hingga daging sapi tercatat mengalami kenaikan harga sepanjang Mei. Bukan fenomena lokal semata: indeks harga pangan FAO pada April sudah menyentuh 130,7, naik tiga bulan beruntun dan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.
Kedua, BBM non-subsidi ikut memanaskan situasi. Sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite sepanjang Mei. Bagi konsumen kelas menengah yang bergantung pada jenis BBM ini, tekanannya terasa langsung di dompet. Tarif tiket pesawat juga disebut sebagai salah satu kontributor, menambah tekanan pada komponen administered prices.
Ketiga, imported inflation akibat pelemahan rupiah. Inilah yang membuat inflasi inti ikut terkerek. Juniman memproyeksikan core inflation naik ke 2,53% yoy dari 2,44% di April. David dan Hosianna masing-masing memperkirakan inflasi inti di kisaran 2,50-2,52% yoy. "Kenaikan inflasi masih lebih didorong oleh tekanan harga komoditas dan energi global dibandingkan lonjakan permintaan domestik," kata Hosianna.
Poin terakhir itu agaknya penting. Inflasi yang naik bukan karena daya beli melonjak, melainkan karena tekanan dari luar, ibarat kena ombak tanpa sempat berdiri tegak. Kondisi ini mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk merespons lewat kebijakan moneter.
Ada satu efek teknis yang turut mendongkrak angka tahunan: low base effect. Mei tahun lalu mencatat penurunan harga pangan yang cukup dalam, sehingga perbandingan basis tahun ini secara otomatis menghasilkan angka yoy lebih tinggi, meski kenaikan bulanannya sendiri terbatas. David memperkirakan inflasi bulanan hanya 0,13% mtm, sama persis dengan April. Kenaikan pangan yang terasa? Sebatas cabai.
Sisi yang sedikit meredam juga ada. Harga emas dunia yang turun selama Mei memberi efek sebaliknya pada komponen perhiasan, membantu menahan inflasi inti agar tidak amblas terlalu jauh ke atas. Bukan penyelamat besar, tapi lumayan.
Angka resmi BPS hari ini akan menjadi ujian apakah konsensus para ekonom ini tepat sasaran. Pertanyaannya kemudian: apakah BI tetap menahan suku bunga, atau mulai memberi sinyal berbeda saat tekanan inflasi justru datang dari arah yang tidak bisa dikendalikan kebijakan domestik?