Angka 2,94% secara tahunan. Itulah proyeksi inflasi Indonesia untuk Mei 2026, naik dari posisi April yang tercatat 2,42% year on year. Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, memperkirakan laju harga secara bulanan juga tipis naik ke 0,14% dari 0,13% di bulan sebelumnya. Sinyal bahwa tekanan harga mulai bergeser dari sekadar musiman ke sesuatu yang lebih sulit direm.
Yang menarik dari proyeksi ini bukan besarannya, tapi sumbernya. Josua menegaskan bahwa tekanan inflasi Mei bukan didorong lonjakan permintaan konsumen, melainkan dari sisi biaya. BBM nonsubsidi, harga energi yang masih tinggi, dan tarif angkutan udara yang terdorong mahalnya avtur jadi kontributor utama di komponen administered prices. Bersamaan dengan itu, depresiasi rupiah membuat harga input impor kian mahal, dan efeknya mulai diteruskan ke harga akhir konsumen.
Komponen volatile food juga ikut membara. Permintaan bahan makanan menjelang Iduladha mendorong harga pangan bergejolak kembali mencatat inflasi, pola musiman yang agaknya tidak mengejutkan tapi tetap perlu dicermati dampak akumulasinya.
Inflasi inti diperkirakan bergerak dari 2,44% ke 2,50% secara tahunan. Kenaikannya terbatas, sebagian karena harga emas yang turun cukup membantu menahan tekanan. Pemicunya tetap perlu digarisbawahi: minyak goreng dan biaya input nonpangan akibat rupiah yang tertekan. "Dengan kata lain, inflasi Mei masih terkendali dalam sasaran BI, tetapi kualitas tekanannya perlu diperhatikan karena mulai berasal dari biaya produksi dan impor, bukan sekadar permintaan musiman," ujar Josua.
Untuk keseluruhan 2026, PermataBank mematok proyeksi inflasi akhir tahun di kisaran 2,72%, dengan asumsi harga BBM subsidi tidak bergerak. Skenario itu bisa berubah kalau beberapa risiko terealisasi sekaligus: rupiah makin tergerus, harga minyak global bertahan tinggi karena ketegangan Timur Tengah, cuaca ekstrem menghantam produksi pertanian, atau program Makan Bergizi Gratis mendorong permintaan pangan tanpa didukung sisi pasokan yang memadai. Bak gayung bersambut yang salah waktu.
Soal suku bunga, Josua cukup tegas. Skenario dasarnya masih menempatkan BI Rate bertahan di 5,25%, menilai kenaikan 50 basis poin yang sudah dilakukan sebelumnya sudah bersifat antisipatif. Ruang untuk menaikkan bunga lagi memang ada, tapi hanya jika beberapa risiko tadi benar-benar memburuk secara bersamaan.
Output gap ekonomi Indonesia saat ini masih negatif, artinya permintaan agregat belum cukup kuat untuk menjadi pemantik inflasi tersendiri. Bantalan alami, setidaknya untuk sementara. Tekanan dari sisi permintaan masih relatif terkekang, dan itu yang membuat proyeksi 2,72% masih terasa realistis, kalau data ini bisa dipercaya sampai akhir tahun.
Buat investor, angka inflasi yang keluar dari BPS akhir pekan ini jadi penanda penting. Kalau realisasi mendekati atau melampaui 2,94%, pasar obligasi dan rupiah patut diwaspadai pergerakannya.