RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Inflasi Mei 2026: Angkanya Jinak, Tapi Perutnya Se...

Ekonomi

Inflasi Mei 2026: Angkanya Jinak, Tapi Perutnya Sedang Berubah

BPS mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen tahunan, masih dalam target. Yang bikin gelisah bukan angkanya, tapi dari mana tekanan itu datang.

Inflasi 0,28 Persen: Angka Jinak, Sinyal Berbahaya

Setengah dari seluruh tekanan inflasi Mei 2026 datang dari satu komponen. Bukan pangan bergejolak yang bisa diredam operasi pasar. Bukan tarif yang bisa diatur ulang lewat keputusan menteri. Inflasi inti, komponen yang paling sulit diobati, menyumbang andil 0,14 persen dari total inflasi bulanan 0,28 persen yang dirilis Badan Pusat Statistik pada 2 Juni lalu.

Secara tahunan, inflasi tercatat 3,08 persen, loncat dari 2,42 persen di April. Masih dalam rentang sasaran pemerintah 2,5 persen plus minus 1 persen, dan masih dalam target BI di kisaran 1,5-3,5 persen. Dibaca permukaannya, aman-aman saja.

Tapi anatominya sedang berubah. Inflasi inti tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 2,59 persen secara tahunan. Komoditas penyumbangnya bukan sesuatu yang baru: minyak goreng lagi, lagi, dan lagi. Ditambah telepon seluler, laptop, serta pelumas mesin. Keempatnya punya benang merah yang sama, yakni ketergantungan pada impor dan rupiah yang sedang tidak baik-baik saja.

Sepanjang Mei 2026, nilai tukar bergerak di kisaran Rp 17.362 hingga Rp 17.883 per dolar AS. Jauh di atas asumsi APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500-Rp 16.900. Selisih itu bukan sekadar angka di spreadsheet pemerintah. Ia sedang berjalan pelan-pelan ke kantong konsumen lewat harga ponsel yang mahal, oli mesin yang naik, dan laptop yang semakin berat dibeli.

Tim Ekonom Bank Permata menilai inflasi Mei 2026 lebih tepat dibaca sebagai cost-push inflation, tekanan dari sisi biaya dan pasokan, bukan karena permintaan masyarakat yang terlalu kuat. Ini penting, dan implikasinya tidak ringan. Inflasi permintaan bisa didinginkan dengan suku bunga. Inflasi biaya tidak semudah itu. Kalau BI harus merespons dengan mengerek suku bunga, kredit mahal, pertumbuhan melambat.

Di sisi pangan bergejolak, cabai merah meledak 25,64 persen secara bulanan. Tomat 9,82 persen. Bawang merah 6,65 persen. Kombinasi tekanan menjelang Idul Adha, cuaca ekstrem, serangan hama, dan kekeringan di sejumlah daerah jadi pemicunya. Bukan kejutan, tapi tetap menggigit.

Komponen administered price ikut menekan: bensin naik 0,49 persen, solar 4,72 persen, tarif angkutan udara 2,75 persen. Ini tidak lepas dari fakta bahwa harga rata-rata minyak mentah dunia di Mei 2026 sudah menyentuh 100,43 dolar AS per barel, sementara asumsi APBN hanya 60-80 dolar AS. Gap yang menganga. Pemerintah memang belum menaikkan harga BBM nonsubsidi, tapi tekanan itu sudah tersalur ke komponen lain.

Yang membuat Mei 2026 berbeda: seluruh komponen inflasi bergerak naik bersamaan. Tidak ada satu pun yang jadi penyeimbang. Masif. Ini sinyal penyebaran yang agaknya belum cukup mendapat perhatian dalam narasi resmi.

Risiko ke depannya tidak lebih ringan. BMKG memperkirakan El Nino dengan peluang 50-80 persen muncul di semester kedua 2026. BPS sendiri sudah memperkirakan produksi beras nasional Januari-Juli 2026 sebesar 21,95 juta ton, turun 0,35 persen dari periode yang sama tahun lalu. Cadangan beras yang dikelola Bulog memang sedang bertengger di atas 5 juta ton, rekor tertinggi sejak merdeka. Pertanyaannya bukan soal stoknya ada atau tidak, tapi apakah akan digelontorkan tepat waktu dan merata, bukan sekadar dijadikan prestasi statistik.

Konsumsi rumah tangga masih jadi tiang pertumbuhan. BPS mencatat kontribusinya sebesar 2,94 persen poin terhadap pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal I-2026. Kuat di atas kertas. Tapi kalau inflasi inti terus merangkak sementara pendapatan riil stagnan, keramahan angka itu bisa mulai retak, khususnya di segmen pekerja bergaji tetap yang tidak punya mekanisme penyesuaian otomatis terhadap kenaikan harga.

Inflasi 0,28 persen bukan angka yang perlu ditakuti. Tapi ketika separuh tekanannya berasal dari komponen yang tidak bisa diselesaikan lewat operasi pasar atau intervensi harga sesaat, ada baiknya kita berhenti sejenak dari narasi "terkendali" dan mulai bertanya lebih keras tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di bawah permukaan.