Rp280,4 miliar. Bukan angka kecil untuk emiten yang ekuitasnya baru Rp760,4 miliar per akhir 2025.
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan rencana akuisisi 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI), kontraktor spesialis kabel bawah laut, lewat penyertaan modal 180 ribu lembar saham di harga Rp1,56 juta per lembar. Nilai transaksi itu setara 36,9% dari total ekuitas perseroan. Pasar menyambut kabar ini dengan hangat: saham INET melesat lebih dari 7% di awal sesi II perdagangan kemarin, menyentuh Rp306 per lembar.
Soal harga, ada yang menarik. Laporan penilai independen mematok nilai pasar wajar saham SGI di kisaran Rp1,46 juta per lembar, artinya INET membayar sekitar 6,7% lebih tinggi dari valuasi tersebut. Premium yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Manajemen agaknya punya kalkulasi tersendiri soal nilai strategis aset yang dibeli, kalau data penilai itu bisa dijadikan patokan.
Dan asetnya memang bukan sembarangan. SGI membawa dua kapal spesialis ke meja negosiasi: Pacific Guardian dan Nostag 10, keduanya dirancang khusus untuk instalasi kabel serat optik dan kabel listrik bawah laut. Di Indonesia, kepemilikan armada semacam ini bisa jadi pembeda krusial. Mobilisasi kapal kabel dari luar negeri? Mahal dan lama. SGI juga punya rekam jejak mengerjakan proyek Palapa Ring, jaringan tulang punggung internet nasional yang menjangkau wilayah-wilayah terpencil.
Dari sisi angka, kinerja SGI di 2025 cukup bicara. Pendapatan tercatat Rp291,06 miliar, melonjak drastis dari tahun sebelumnya, dengan laba bersih Rp44,04 miliar. Patut dicermati, terutama mengingat industri kabel bawah laut dikenal padat modal dan siklusnya panjang.
Secara formal, INET sudah menandatangani Term Sheet dengan pemegang saham SGI sebagai komitmen awal. Transaksi ini dibawa ke RUPS yang dijadwalkan 19 Mei 2026 untuk mendapat restu pemegang saham.
Bagi INET, ini bukan langkah pertama dalam membangun ekosistem infrastruktur digital. Sebelumnya, perseroan sudah mengintegrasikan PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) ke dalam grupnya. Logika bisnisnya mudah dibaca: PADA menyumbang tenaga teknis terlatih, SGI menyumbang aset fisik dan kapabilitas laut, sementara INET sendiri mengoperasikan jaringan backbone fiber optic dan FTTH di darat. End-to-end, dari kabel laut hingga ke rumah pelanggan. Rapi, setidaknya di atas kertas.
Pertanyaannya sekarang, apakah premium 6,7% yang dibayar INET sepadan dengan sinergi yang dijanjikan? Pemegang saham di RUPS Mei nanti yang akan memutuskan.