RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Industri Tumbuh, Lapangan Kerja Justru Jalan di Te...

Ekonomi

Industri Tumbuh, Lapangan Kerja Justru Jalan di Tempat

Ekspansi manufaktur di awal 2026 belum berhasil menyerap tenaga kerja secara signifikan. Perusahaan pilih efisiensi, pencari kerja makin terjepit.

7.5 million individuals in Indonesia 🇮🇩 are still unemployed as jobs availability is still lacking. 🧑🏻‍💼 Meanwhile, 58% of the country's labor still works in the informal sector with less job securi

Satu lowongan, ribuan pelamar. Bukan cerita lama, eh, maksudnya: ini bukan nostalgia. Ini realita pasar kerja Indonesia di 2026, dan agaknya belum akan berubah dalam waktu dekat.

Sektor manufaktur secara teknis masih ekspansif. Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan produksi di kuartal pertama 2026, didorong lonjakan permintaan menjelang Imlek, Ramadan, dan Lebaran. Aktivitas pabrik naik, tapi pintu rekrutmen tetap nyaris tertutup. Paradoks yang membuat banyak pencari kerja garuk-garuk kepala.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyebut kenaikan produksi saat ini sebagian besar bersifat musiman. Perusahaan merespons lonjakan permintaan dengan mengoptimalkan kapasitas yang sudah ada, bukan membuka lowongan baru. Efisiensi operasional kini jadi pegangan utama dunia usaha. Ketidakpastian pasar global dan domestik membuat ekspansi bisnis, termasuk penambahan karyawan, masih banyak yang ditunda.

Biaya jadi momok. Kenaikan tarif energi, ongkos logistik yang makin mahal, dan beban pembiayaan membuat perusahaan enggan menambah beban tetap berupa tenaga kerja formal. Belum lagi risiko regulasi ketenagakerjaan yang dinilai pelaku usaha masih cukup memberatkan. Lebih aman pakai yang sudah ada, optimalkan, hemat di mana bisa.

Dampaknya langsung terasa. Persaingan memperebutkan posisi yang tersedia makin brutal, bak gayung bersambut dengan pengangguran yang sedari awal sudah mengular. Satu lowongan bisa diserbu ribuan pelamar, angka yang dua-tiga tahun lalu hanya lazim untuk posisi BUMN atau CPNS. Sekarang sudah jadi norma baru, dari manufaktur hingga jasa.

Bagi yang tidak berhasil menembus pasar kerja formal, tekanan ini mendorong gelombang wirausaha kecil-kecilan bermodal terbatas. Bukan pilihan ideal, tapi pilihan yang ada. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, ekonomi informal sedang menyangga apa yang gagal diserap sektor formal. Cukup untuk bikin pemerintah harusnya gelisah.

Apindo mendorong pemerintah bergerak di beberapa front sekaligus: jaga stabilitas makro, kendalikan inflasi, pangkas regulasi yang memperumit usaha, turunkan biaya energi dan logistik, serta perluas akses kredit, terutama untuk sektor padat karya. Investasi di sektor produktif pun dinilai perlu terus diperkuat.

Seberapa cepat kebijakan itu bisa dieksekusi? Selama jawabannya masih abu-abu, jutaan pencari kerja Indonesia terpaksa terus mengantre, mengirimkan CV ke lowongan yang sudah penuh sesak bahkan sebelum sempat dibuka lebar.