RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Indonesia Bidik Pasar Eurasia Lewat Innoprom, HKI...

Finansial

Indonesia Bidik Pasar Eurasia Lewat Innoprom, HKI Teken MoU dengan Rusia

Indonesia tampil sebagai Official Partner Country di Innoprom 2026 Ekaterinburg, menandatangani FTA dengan EAEU dan MoU antar kawasan industri, membidik pasar 500 juta jiwa Eurasia.

Indonesia-Rusia Perkuat Kerja Sama Industri

Lima ratus juta jiwa. Angka itu yang terus bergema di bibir delegasi Indonesia sepanjang pekan ini di Ekaterinburg, menggambarkan besaran pasar Eurasia yang kini resmi mulai terbuka bagi produk manufaktur nasional.

Indonesia hadir sebagai Official Partner Country di pameran industri internasional Innoprom 2026, berlangsung 6-9 Juli di Rusia. Status itu bukan sekadar kehormatan protokoler. Ini tindak lanjut langsung dari komunikasi Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin, dan datang bersamaan dengan penandatanganan perjanjian kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) yang mencakup lima negara: Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, dan Armenia.

Momentum yang agaknya memang dirancang untuk saling menopang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyambut Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin yang mengunjungi paviliun Indonesia bertema "Navigating Industrial Futures". Mishustin menilai 50 perusahaan nasional yang berpartisipasi sudah cukup merepresentasikan daya tarik sektor manufaktur Indonesia. Lima sektor ditampilkan: agro dan pengolahan pangan, kimia dan farmasi, manufaktur lanjutan, rekayasa, serta kawasan industri dan investasi. Hadir pula di paviliun itu para perdana menteri dari empat negara anggota EAEU lainnya, yakni Ketua Kabinet Menteri Kirgistan Adylbek Kasymaliev, PM Kazakhstan Olzhas Bektenov, PM Belarus Alexander Turchin, dan PM Armenia Nikol Pashinyan.

"Kepercayaan yang diberikan Rusia kepada Indonesia harus kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan kedua negara," ujar Agus. Target pemerintah, tegasnya, bukan sekadar mengerek nilai perdagangan, melainkan membangun kemitraan industri jangka panjang: investasi, transfer teknologi, pertukaran tenaga ahli. Pekerja Indonesia diharapkan bisa menyerap pengalaman di pabrik-pabrik Rusia yang teknologinya lebih maju, sementara tenaga ahli Rusia membuka ruang berbagi keahlian di sini.

Di luar retorika diplomasi, beberapa sektor cukup konkret dibidik. Pupuk kalium klorida jadi salah satu yang paling menarik perhatian, eh, lebih tepatnya paling strategis, mengingat Rusia dan Belarus termasuk segelintir produsen utama komoditas itu di dunia, bersama Kanada. Duta Besar Indonesia untuk Rusia Jose Antonio Morato Tavares menyebut komoditas ini krusial bagi produktivitas pertanian nasional. Sektor lain yang masuk radar: galangan kapal, industri material, energi minyak dan gas, bahkan nuklir untuk jangka panjang. Yang terakhir jelas masih butuh pembahasan panjang soal regulasi, teknologi, dan kesiapan SDM.

Satu langkah paling konkret datang dari Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Di sela Innoprom, HKI menandatangani Memorandum of Understanding dengan Association of Clusters, Technology Parks and Special Economic Zones of Russia. Diteken langsung oleh Ketua Umum HKI Akhmad Maruf Maulana dan CEO asosiasi Rusia Labudin Mikhail, disaksikan Agus dan Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Anton Alikhanov. Ruang lingkupnya luas: promosi investasi lintas negara, pertukaran informasi bisnis, pengembangan proyek industri bersama, sampai fasilitasi perusahaan Rusia yang ingin masuk ke kawasan industri Indonesia.

Maruf bilang HKI siap jadi mitra lokal penuh, mulai pemilihan lokasi, penyediaan lahan, koordinasi dengan pengelola kawasan, hingga pendampingan perizinan. "Kami ingin membangun kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan bagi Indonesia maupun Rusia," ungkapnya.

Bagi Dirjen Ketahanan Perwilayahan dan Akses Industri Internasional Kemenperin Tri Supondy, perjanjian FTA dengan EAEU yang ditandatangani bersamaan dengan Innoprom adalah game changer. Bukan pameran produk biasa. "Indonesia menargetkan Innoprom 2026 sebagai titik awal kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan mitra Eurasia," katanya. Produk makanan dan minuman serta furnitur disebut punya daya saing kuat di pasar dengan PDB per kapita yang relatif tinggi ini.

Pertanyaannya kini bukan soal apakah peluangnya nyata. Tapi seberapa cepat pelaku industri nasional bisa mengkapitalisasi pintu yang baru terbuka ini sebelum kompetitor dari kawasan lain lebih dulu masuk.