Sejak 15 Mei lalu, India tidak berhenti menaikkan harga bahan bakar. Senin (25/5/2026) jadi kenaikan keempat dalam 10 hari, dan sejauh ini belum ada sinyal ini akan berhenti.
Harga bensin di New Delhi kini berada di 102,12 rupee per liter, naik dari 99,5 rupee pada kenaikan sebelumnya. Solar dibanderol 95,20 rupee, naik 2,71 rupee dalam penyesuaian terakhir. Secara kumulatif sejak 15 Mei, harga diesel sudah terkerek sekitar 8,6% dan bensin 7,8%. Bagi pompa BBM di pinggir jalan Delhi, itu bukan kenaikan kecil.
Tiga perusahaan pelat merah yang menguasai sekitar 90% pasar bahan bakar India, yakni Indian Oil Corp, Bharat Petroleum Corp, dan Hindustan Petroleum Corp, kompak melakukan penyesuaian dalam kisaran serupa. Indraprastha Gas ikut mengerek harga compressed natural gas sebesar 1% di seluruh wilayah operasionalnya.
Pemicunya sudah jelas: perang di Timur Tengah yang pecah sejak Februari, memicu blokade hampir total Iran terhadap Selat Hormuz. Jalur itu bukan sembarang jalur. Sekitar separuh impor minyak mentah India biasanya melewati sana, dan sebagai importir terbesar ketiga di dunia, India langsung dihajar begitu pasokan tersendat. Harga minyak global melonjak, margin kilang tergerus, dan kenaikan harga eceran jadi konsekuensi yang agaknya sulit ditampik.
Kerugian yang ditanggung perusahaan minyak India sebelum penyesuaian harga ini dilaporkan mencapai US$120 juta atau sekitar Rp2,13 triliun per hari. Angka itu diungkap langsung oleh Menteri Perminyakan dan Gas Alam Hardeep Singh Puri. Ia juga memastikan pasokan tidak goyah. "Impor dan pasokan energi tidak terganggu," tegas Puri, meski ia mengakui tekanan finansial yang menggerus neraca perusahaan pemasaran minyak.
Kenaikan ini baru dilakukan setelah pemilu di sejumlah negara bagian selesai. Bukan kebetulan. Pemerintahan Modi dikenal hati-hati soal timing kebijakan harga energi, dan menunda kenaikan hingga kontestasi politik usai adalah taktik lama yang sudah terbaca pasar.
PM Modi sendiri sudah memberi sinyal ke publik bahwa pembatasan konsumsi bahan bakar diperlukan guna menghemat devisa yang terkuras akibat impor energi. Diam-diam, India juga menambah pembelian minyak mentah dari Rusia, memanfaatkan pengecualian sementara terhadap sanksi Amerika Serikat. Diversifikasi yang pragmatis, bisa jadi ini satu-satunya kartu yang tersisa di tangan New Delhi.
Data penjualan Indian Oil Corp periode 1-22 Mei justru mencatat lonjakan: diesel naik 18% dan bensin 14% dibanding tahun lalu. Paradoks yang patut dicermati. Kenaikan harga belum serta-merta memukul permintaan secara agregat. Namun ada pergeseran perilaku yang mulai terlihat, sejumlah pelanggan besar beralih ke pompa ritel yang lebih murah, menciptakan tekanan pasokan di beberapa wilayah.
Dengan kurs Rp17.725 per dolar AS, kenaikan lebih dari 2 rupee per liter pada penyesuaian terakhir setara sekitar Rp354 per liter. Kecil per transaksi. Tapi dirasakan jutaan pengguna kendaraan setiap hari. Pertanyaannya, sampai kapan daya beli masyarakat India sanggup menyerap tekanan ini sebelum permintaan benar-benar amblas?