SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Impor China Tembus US$7,89 Miliar, Forwarder Lokal...

Ekonomi

Impor China Tembus US$7,89 Miliar, Forwarder Lokal Ketiban Rezeki

Nilai impor Indonesia dari China menyumbang hampir separuh total impor nonmigas di awal 2026, dan perusahaan jasa forwarder ikut merasakan manisnya lonjakan arus barang ini.

Impor China ke Indonesia Naik 18,21%, Jasa Forwarder Ikut Melonjak

Hampir separuh impor nonmigas Indonesia di awal tahun ini bersumber dari satu negara. China, dengan nilai US$7,89 miliar pada Januari 2026, mengukuhkan dominasinya sebagai pemasok utama, setara 43,75% dari total impor nonmigas nasional yang mencapai US$21,20 miliar, tumbuh 18,21% dibanding Januari 2025.

Momentum itu bertahan hingga akhir kuartal pertama. Secara kumulatif, impor Indonesia periode Januari-Maret 2026 menyentuh US$61,30 miliar, naik 10,05% year-on-year. Bukan tren sesaat.

Yang paling merasakan denyut lonjakan ini justru para pelaku jasa forwarder. Natindo Cargo, perusahaan yang fokus di rute China-Indonesia, mencatat kenaikan permintaan hingga 31,48% di awal tahun dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka yang, jujur saja, cukup mengejutkan bahkan untuk industri yang memang sedang dalam tren tumbuh.

Sepatu, tas, aksesori gawai, garment, dan perlengkapan fashion mendominasi daftar barang yang masuk. Bukan barang modal, bukan bahan baku industri berat, melainkan produk konsumer bermargin menarik dengan perputaran cepat. Segmen yang menjadi lapak utama para pelaku UMKM dan reseller online.

Pendorongnya agaknya sudah bisa ditebak: tren live shopping yang terus membesar, transaksi grosir lintas negara yang makin marak, hingga model bisnis reseller rumahan yang kini bisa dimulai dengan modal terbatas. Ekosistem inilah yang membuat arus barang dari Negeri Tirai Bambu sulit surut dalam waktu dekat.

Dari sisi logistik, pelaku usaha kini punya tiga pilihan jalur. Laut, dengan estimasi 21-30 hari, untuk yang butuh ongkos ekonomis. Udara sekitar 7-8 hari untuk yang butuh lebih cepat. Dan jalur express untuk pengiriman kilat. "Kebutuhan pebisnis Indonesia terhadap layanan impor dari China terus meningkat, terutama untuk volume kecil hingga menengah. Pebisnis kini bisa memilih jalur sesuai kebutuhan, mulai dari sea cargo yang ekonomis hingga express untuk pengiriman cepat," ujar Head of Import Natindo Cargo Samuel Andrew.

Skema yang paling laku? Door to door, atau all in. Masif. Model ini menawarkan kepastian biaya sejak awal tanpa pungutan tambahan yang tiba-tiba muncul belakangan, sesuatu yang sangat dihargai pelaku usaha pemula yang baru belajar navigasi rantai pasok lintas negara. Kalau data ini bisa dipercaya, skema tersebut kini jadi standar de facto buat ribuan reseller kelas menengah ke bawah yang modalnya mepet tapi ambisinya tidak.

Pertanyaannya kemudian: apakah lonjakan impor ini sepenuhnya kabar baik? Bagi forwarder dan UMKM yang bermain di ekosistem ini, jelas ya. Tapi bagi industri manufaktur lokal yang memproduksi barang-barang serupa, derasnya produk China dengan harga kompetitif adalah tekanan yang sudah lama mereka rasakan. Angka-angka BPS ini cuma mengonfirmasi bahwa tekanan itu belum akan mereda, setidaknya dalam waktu dekat.