JUMAT, 9 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IMF Pangkas Proyeksi Global, Indonesia Bertahan di...

Ekonomi

IMF Pangkas Proyeksi Global, Indonesia Bertahan di 5,0%

IMF memperingatkan empat ancaman besar bagi ekonomi dunia di tengah konflik Timur Tengah, namun Indonesia masih bertengger di posisi ketiga Asia dengan proyeksi pertumbuhan 5,0% untuk 2026.

Ini 5 Macan Asia Versi Terbaru dari IMF, Indonesia Nomor Berapa?

Ekonomi global kehilangan tenaga. Dalam World Economic Outlook Update edisi Juli 2026, IMF memproyeksikan pertumbuhan dunia hanya 3,0% tahun ini, turun dari rata-rata 3,5% sepanjang 2024-2025. Pemulihan moderat ke 3,4% baru diharapkan terjadi pada 2027.

Di balik angka itu ada empat tekanan struktural yang saling berkelindan: harga energi yang masih membara akibat konflik Timur Tengah, inflasi global yang kembali merangkak, ruang fiskal yang makin mepet di banyak negara, dan risiko geopolitik yang belum ada tanda-tanda mereda.

Soal energi, tekanannya tidak bisa dianggap enteng. IMF memperkirakan rata-rata harga minyak mentah di 2026 menyentuh sekitar US$89 per barel, atau 9% lebih tinggi dari proyeksi April lalu. Harga gas alam diperkirakan di kisaran US$15, naik 5% dari estimasi sebelumnya. Dibanding 2025, harga minyak tahun ini terkerek 32% dan gas alam 22%. Harga pupuk ikut melesat 26%, mendorong harga pangan naik sekitar 8%.

Asia menanggung beban lebih berat. Sejak konflik Timur Tengah memanas, harga bensin ritel di emerging Asia naik sekitar 30%, jauh di atas Amerika Latin yang 15%. Harga LNG di Asia melonjak hampir 50%. Angka yang tidak main-main.

Dalam skenario dasarnya, IMF mengasumsikan Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli 2026 dan kondisi berangsur normal mendekati Maret 2027. Tapi selama masa transisi itu, tekanan harga komoditas tetap hidup. Jalur rambatannya ke Indonesia terbuka lebar: biaya impor migas, harga BBM nonsubsidi, tagihan listrik, ongkos logistik, sampai beban subsidi di APBN.

Inflasi pun menjadi soal. Tren penurunan yang sempat memberi angin segar sejak awal 2024 kini mulai tertahan. Inflasi global diproyeksikan naik dari 4,1% di 2025 menjadi 4,7% di 2026, sebelum turun ke 3,9% pada 2027. Kondisi ini, agaknya, membuat bank sentral dunia belum punya cukup alasan untuk buru-buru memangkas suku bunga. Suku bunga tinggi yang lebih lama berarti tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang juga lebih panjang. Rupiah tidak akan kebal dari itu.

Dari sisi fiskal, IMF mengingatkan agar subsidi dan bantuan energi yang dikucurkan pemerintah tetap dirancang sementara, tepat sasaran, dan tidak mengaburkan sinyal harga di pasar. Relevan sekali untuk Indonesia, di mana setiap lonjakan harga minyak global hampir selalu berujung pada dilema klasik: tahan harga dan bengkakkan APBN, atau lepas harga dan tekan daya beli. Bak pedang bermata dua.

Di tengah semua kebisingan itu, Indonesia terbilang kalem. IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan Indonesia di 5,0% untuk 2026 dan 5,1% untuk 2027, tidak berubah dari laporan April. Dalam daftar "Macan Asia" versi IMF kali ini, Indonesia berada di posisi ketiga. Vietnam memimpin dengan 7,5%, India di 6,4%, Malaysia di belakang dengan 4,7%, lalu China di 4,6%.

Proyeksi Vietnam direvisi naik 0,4 poin persentase dari April, ditopang ekspor teknologi yang lebih kuat dari perkiraan dan permintaan domestik yang solid. China sebaliknya direvisi naik tipis ke 4,6% dari 4,4% dalam laporan April, meski tetap menghadapi tantangan struktural dan beban harga energi yang lebih tinggi.

Indonesia juga masih unggul dibanding rata-rata ASEAN-5 yang diproyeksikan tumbuh 4,1% tahun ini. Stabilnya proyeksi itu bisa dibaca sebagai sinyal kepercayaan. Tapi bisa jadi juga cerminan bahwa IMF belum memasukkan skenario eskalasi geopolitik yang lebih buruk ke dalam kalkulasinya, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya.

Pertanyaannya, sampai kapan tren ini bertahan? Laporan Juli ini menyoroti peran teknologi sebagai peredam guncangan. Negara yang masuk rantai pasok semikonduktor, elektronik, dan manufaktur berteknologi tinggi punya bantalan ekstra saat ekonomi global diguncang perang dan energi. Vietnam dan Malaysia jelas merasakan keuntungan itu. Indonesia, dengan basis ekspor yang masih didominasi komoditas, mewarisi pertanyaan lama yang belum tuntas terjawab.