Angka 122,9 terdengar kuat. Jauh di atas ambang 100 yang memisahkan zona optimis dari pesimis. Tapi perhatikan trennya, ada yang patut dicermati.
Itulah yang terbaca dari Survei Konsumen Bank Indonesia periode Maret 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) memang masih bertahan di teritori positif. Hanya saja angkanya tergerus 2,3 poin dari Februari 2026, menjadikannya level paling rendah sejak Oktober tahun lalu. Dua bulan berturut-turut. Konsisten turun.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, menyatakan keyakinan konsumen masih kuat. Ia menyebut sentimen positif ditopang dua faktor: penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, dan ekspektasi mereka untuk enam bulan mendatang.
Datanya memang menunjukkan dua hal yang berbeda arah. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat di 115,4, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) lebih tinggi di 130,4. Selisihnya lumayan lebar. Artinya, tekanan di hari ini agaknya sudah terasa, tapi harapan ke depan masih terjaga, setidaknya untuk sementara.
Pertanyaannya: sampai kapan?
Pelemahan kali ini bukan sekadar penurunan tipis satu angka indeks. Kontan mencatat koreksi IKK Maret bersifat menyeluruh, menyentuh bukan hanya persepsi kondisi ekonomi kini, tapi juga merambat ke ekspektasi. Konsumen mulai mengetatkan ikat pinggang. Belanja ditahan, pengeluaran difilter. Ini bukan sinyal yang bisa disepelekan.
Konteks global ikut bermain. Tekanan perdagangan internasional dan volatilitas harga komoditas pelan-pelan merembes ke psikologi konsumen domestik. Inflasi, meski angkanya terkendali, tetap menggigit kantong kelas menengah secara riil.
122,9 masih nyaman secara statistik. Tapi kalau tren ini lanjut sampai kuartal kedua, narasi "konsumen optimistis" bisa berganti cerita lebih cepat dari perkiraan.