Konsumen Indonesia masih optimis soal ekonomi, tapi cara mereka mengelola uang mulai bergeser ke arah yang patut dicermati.
Bank Indonesia merilis Survei Konsumen edisi Juni 2026 pada Rabu (8/7), mencatat Indeks Keyakinan Konsumen di level 117,8. Masih nyaman di atas ambang 100 yang jadi penanda zona optimis, tapi turun dari 120,9 di Mei. Bukan penurunan yang dramatis. Tapi konsisten, dan itu cukup untuk membuat sebagian pelaku pasar mengernyitkan dahi.
Dua pilar utama IKK ikut terkoreksi. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun ke 109,2 dari 112,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melemah ke 126,4 dari 129,7. Semua komponen dari kedua indeks itu kompak bergerak ke bawah, mulai dari persepsi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, hingga ekspektasi kegiatan usaha. Kompak turun, semua.
Tapi cerita utamanya bukan di situ. Yang lebih mengejutkan adalah apa yang terjadi di balik angka keyakinan itu: masyarakat mulai makan tabungan untuk konsumsi. Rata-rata proporsi pendapatan yang dibelanjakan naik ke 73,0 persen di Juni, dari 72,3 persen bulan sebelumnya. Rasio tabungan terhadap pendapatan menyusut ke 17,0 persen dari 17,5 persen. Proporsi cicilan relatif stabil di kisaran 10 persen, jadi jelas perubahannya bukan karena beban utang bertambah, melainkan karena ruang untuk menabung yang kian sempit.
Pola ini tidak merata. Kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta per bulan mencatat rasio konsumsi tertinggi, 75,2 persen, dengan rasio tabungan yang anjlok ke 15,6 persen. Kelompok pengeluaran Rp 4,1 juta hingga Rp 5 juta juga terkena getahnya, dengan rasio konsumsi naik ke 71,8 persen dan tabungan merosot ke 16,9 persen. Ironis: kelompok berpengeluaran di atas Rp 5 juta justru paling optimis soal prospek penghasilan enam bulan ke depan, dengan indeks ekspektasi penghasilan mencapai 138,9. Beda kelas, beda cerita.
Soal lapangan kerja, gambarannya lebih suram. Persepsi terhadap ketersediaan pekerjaan sudah masuk zona pesimis untuk hampir semua kelompok kecuali lulusan sarjana dan diploma, serta responden berusia 20-40 tahun. Kelompok usia di atas 41 tahun, agaknya, punya kekhawatiran tersendiri soal ini.
Bank sentral tidak tinggal diam. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan BI terus mendorong percepatan penyaluran kredit, didukung kebijakan insentif likuiditas makroprudensial. Kredit perbankan per Mei 2026 tumbuh 11,51 persen secara tahunan, sementara omzet UMKM binaan BI mencapai Rp 7,02 triliun, tumbuh 23,1 persen year-on-year. Angka yang tidak kecil untuk segmen yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi domestik.
Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan sebelum tabungan yang menipis akhirnya ikut mendinginkan konsumsi?