Pasar modal nasional menutup Mei 2026 dengan catatan pahit. IHSG parkir di 6.127,38 pada penutupan Jumat (29/5), turun 0,05 persen, terlihat kecil di atas kertas, tapi menyimpan tekanan yang sudah menumpuk berbulan-bulan.
Sepanjang sesi, 409 saham melemah berbanding 271 yang menguat, dengan 137 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp48,2 triliun dari 46,1 miliar lembar saham yang berpindah tangan lewat 2,37 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar BEI berdiri di Rp10.752 triliun.
Gerak sektoral terbilang belang. Infrastruktur memimpin penguatan dengan lonjakan 3,34 persen, disusul bahan baku 3,08 persen dan energi 2,65 persen. Sektor konsumsi primer naik 1,54 persen. Di ujung berlawanan, keuangan terkoreksi 1,03 persen, properti 0,90 persen, dan kesehatan 0,19 persen.
Tapi angka harian itu bukan cerita utamanya. Sejak Januari hingga akhir Mei 2026, investor asing sudah membukukan aksi jual bersih hingga Rp45 triliun. Tekanan terakhir sebesar Rp8,52 triliun di pekan terakhir Mei sebagian besar dipicu rebalancing MSCI, koreksi teknikal yang sifatnya periodik. Masalahnya, IHSG sudah amblas hampir 30 persen sepanjang tahun berjalan. Bukan angka yang bisa dianggap enteng.
Rebalancing MSCI memang berakhir di awal Juni, yang secara teknikal membuka ruang untuk technical rebound. Namun Hendra Wardana, Founder Republik Investor, menilai hilangnya tekanan itu tidak otomatis membalik arah pasar. "Dengan kata lain hilangnya tekanan akibat rebalancing belum otomatis membuat pasar langsung berbalik menjadi bullish," paparnya. Yang dibutuhkan pasar jauh lebih mendasar: kejelasan dan konsistensi kebijakan ekonomi, mulai dari pengelolaan fiskal, stabilisasi regulasi, strategi hilirisasi, hingga iklim investasi.
Rupiah menjadi komplikasi tersendiri. Dolar AS kini bertengger di atas Rp17.800, level psikologis yang membuat investor asing berhitung ulang. Bagi mereka, pelemahan rupiah bukan sekadar menggerus potensi cuan dari saham, ini juga menambah beban risiko nilai tukar yang harus mereka tanggung. Akibatnya, meski valuasi saham Indonesia sudah terlihat murah secara historis, agaknya sebagian pelaku global masih memilih wait and see sampai rupiah memberi sinyal stabilisasi yang lebih meyakinkan.
Selama dolar masih bertahan tinggi dan rupiah belum kembali ke bawah Rp17.500, Hendra memperingatkan IHSG berpeluang menguji support kuat di kisaran 5.880. Level itu bisa jadi titik masuk bagi investor jangka panjang yang memburu saham-saham fundamental solid di harga diskon, tapi perjalanan ke sana jelas bukan pengalaman yang nyaman bagi yang sudah nyangkut di atas.
Ada sisi paradoks yang patut dicermati. Koreksi sedalam ini justru menciptakan valuasi menarik di banyak emiten berfundamental kuat, bak gayung bersambut bagi investor dengan nyali dan horizon panjang. Entah kebetulan atau tidak, kondisi ini persis seperti beberapa siklus koreksi besar sebelumnya di mana akumulasi perlahan di level rendah akhirnya berbuah manis. Pertanyaannya tinggal satu: kapan kombinasi antara stabilisasi rupiah, meredanya tekanan jual asing, dan kebijakan pemerintah yang pro-investasi akan hadir bersamaan?