Penutupan IHSG hari Jumat (29/5/2026) terlihat kalem di atas kertas, turun hanya 0,05 persen ke level 6.127,381. Tapi angka itu menipu. Di balik pelemahan yang terkesan minor, investor asing memborong tombol jual dengan agresivitas yang tidak main-main.
Net sell asing tembus Rp 8,36 triliun dalam sehari. Bukan angka kecil.
Dua emiten paling banyak dihajar adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai jual bersih Rp 1,959 triliun, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) di Rp 1,939 triliun. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) ikut kena getah dengan net sell Rp 1,610 triliun. Saham perbankan besar lainnya pun tak luput: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dibabat Rp 738 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas Rp 390 miliar.
Ada sisi lain ceritanya. Sejumlah saham justru diburu asing, PT Astra International Tbk (ASII) memimpin sisi net buy dengan Rp 137 miliar, diikuti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 96 miliar dan PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 85 miliar. Tapi aksi beli itu jauh dari cukup untuk membendung derasnya arus keluar.
Sejak pagi, kondisi sudah suram. IHSG dibuka melemah 17,42 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.112,77. Indeks LQ45 lebih dalam lagi, ambles 1,69 persen ke 609,89. Saham-saham unggulan yang paling likuid jadi sasaran utama sejak bel pembukaan.
Dua sentimen datang bersamaan, dan keduanya menekan dari arah berlawanan: rupiah yang makin tergerus, dan rebalancing indeks MSCI yang efektif 1 Juni 2026. Rupiah di pasar spot ditutup terdepresiasi 35 poin atau 0,20 persen ke Rp 17.880 per dolar AS. Sesaat sebelum penutupan, kurs sempat menyentuh Rp 17.893, turun 48 poin dari hari sebelumnya. Level psikologis Rp 17.800 sudah lama terlewati. Pasar mulai gelisah, dan kelihatannya bukan tanpa alasan.
Investment Specialist KISI Ahmad Faris Mu'tashim tidak heran saham bank jumbo seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI jadi sasaran utama. Alasannya sederhana: saham-saham itu paling likuid di BEI sekaligus mendominasi portofolio mayoritas manajer investasi dan investor institusi. "Tentu (bank jadi penekan), karena memang dari portofolio manajer investasi saham tersebut adalah yang paling likuid," ujar Faris. Saat ketidakpastian menyelimuti pasar, yang pertama dilepas adalah yang paling mudah dijual. Dan itulah persis posisi bank-bank besar itu.
Bobot keempatnya dalam perhitungan IHSG juga tidak bisa diabaikan. Koreksi di sana bisa menyeret indeks ke merah meski sebagian besar saham lain bergerak stabil, pola klasik yang sudah berulang berkali-kali.
Soal skenario terburuk, Faris cukup gamblang. Secara price action, IHSG berpotensi melorot ke kisaran 5.800-6.000, tergantung seberapa lama dua sentimen negatif ini betah menghantui pasar.
Namun ia tidak menyimpulkan rupiah yang amblas otomatis mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk. Tekanan saat ini, kata Faris, lebih bersumber dari naiknya risk premium yang tergambar dari kenaikan yield obligasi. Investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk parkir dana di sini, dan selama itu terjadi, capital inflow sulit masuk. "Sentimen pelemahan rupiah lebih disebabkan naiknya risk premium yang tergambar dari naiknya yield obligasi. Sehingga, untuk pasar keuangan RI mendapat inflow perlu growth story atau valuasi yang terlalu murah," tegasnya.
Pertanyaannya: kapan katalis itu datang?